Catatan

Pria (Tidak) Berharga

Gambar
Saya melihat teman lama yang perutnya membuncit sedang menggendong anaknya. Terlihat senyumnya yang lepas seakan mengatakan bahwa dialah yang paling bahagia di dunia ini. Sebuah pesan kepada para lelaki bahwa ia sudah tiba digaris akhir seorang pria sukses. Lalu, kapan kamu? Entahlah, saya juga bingung mengapa saya berjalan tidak pada semestinya seperti para pria lainnya yang kerap kali membagikan momen-momen bahagianya dengan pasangan dan anak kesayangannya. Memiliki istri yang rupawan, apalagi setia, cakep tuh disebut keluarga kecil yang bahagia. Inilah kekurangan pada diri saya yang mengaku hebat dalam konsistensi, tapi sulit ekonomi. Pria (tidak) berharga Saya kembali memulai perjalanan baru sebagai pria yang kini menginjak usia 38 tahun. Apa yang akan terjadi sepanjang tahun, saya harap itu sangat berharga.  Di umur sekarang ini, saya percaya bahwa 'laki-laki sukses ada keluarga dibelakangnya yang hebat'. Saya merenung sesaat, andai saja saya bisa kembali mengulang waktu s

Lebih Banyak Tisu



Kadang sudah semangat berapi-api malah tertimpa sakit. Ada-ada saja hari ini. Sukses tubuh ini jarang sakit dalam beberapa bulan, masa harus mengalah dengan sakit pilek yang kecil.


Untung ada tisu yang menolong. Bukannya lebih baik, malah membuat seisi kantor jadi berserakan tisu. Ternyata tisu tidak dapat menolong, akhirnya harus beli obat juga.

Obat yang familiar untuk diminum meski harus menyebabkan kantuk. Padahal sore mau meeting sama tim dotsemarang. Tetap semangat!

Kamis, 26 September 2013

**gambarnya kok tisu toilet, hehe.. biar seru!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

[Review] One Day, Film Korea Tentang Pertemuan Pria dengan Wanita Koma yang Menjadi Roh