Postingan

Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🚨 Akhir Prematur Xabi Alonso di Real Madrid: Mengapa Ia Gagal?

Gambar
[ Artikel 89#, kategori Real Madrid ] Kabar mengejutkan menghampiri para pendukung Real Madrid pagi ini, Selasa (13/1). Hanya berselang sehari setelah kekalahan menyakitkan dari Barcelona di Final Piala Super Spanyol, klub resmi mengumumkan perpisahan dengan Xabi Alonso. Sebuah keputusan yang langsung memicu riuh di berbagai platform media sosial. Sebenarnya tak mengejutkan sama sekali karena sudah ditandai usai kalah lawan manchester City di Liga Champions bulan Desember kemarin. Saya melihat kekalahan dari rival abadi menjadi titik nadir yang tak terelakkan. Andaikan trofi itu berhasil diraih, mungkin napas Xabi di kursi kepelatihan sedikit lebih panjang. Namun, tekanan di klub sebesar Real Madrid memang tidak mengenal kompromi. Menariknya, manajemen seolah memberikan restu instan saat Xabi mengajukan pengunduran diri—sesuatu yang mungkin tak terjadi jika lawannya bukan Barcelona. Filosofi yang Terbentur Ego Bintang Sejujurnya, tidak ada yang salah dengan ambisi Xabi. Ia datang denga...

🧗 Memilih Bertahan: Realitas Blogging dan Pinjaman Pertama di Tahun 2026

Gambar
[ Artikel 23#, kategori Keuangan ] Andai saja arus kas masuk berjalan rutin, tentu saya tidak akan kembali menyentuh pinjaman. Namun, realitas pekerjaan yang sedang lesu memaksa saya untuk mengambil langkah ini. Bagi sebagian orang, pinjaman online (pinjol) mungkin dianggap bukan solusi, bahkan dicap sebagai penyakit yang perlahan menggerogoti hidup. Namun, dalam posisi terjepit, saya memilih untuk melangkah sembari berucap bismillah . Mari tetap berjalan. Dulu, ungkapan "mati satu tumbuh seribu" terasa heroik. Kini, frasa itu justru memiliki konotasi negatif jika dikaitkan dengan siklus pinjol yang seolah tak ada habisnya. Saya sadar sepenuhnya saat mengambil pinjaman baru di awal tahun 2026 ini. Menghidupi aktivitas blogging dan keseharian memang butuh modal yang nyata. Kuota internet, biaya transportasi, hingga asupan makanan dan minuman yang baik demi menjaga mood menulis, semuanya membutuhkan biaya. Bergantung pada Keberuntungan dan Kerja Keras Saya bukan seorang pewari...

🥢 Seni Bertahan Hidup: Kembali ke Tempe demi Menjaga Nafas Kantong

Gambar
[ Artikel 11#, seni bertahan hidup ] Mengawali lembaran awal tahun 2026, saya kembali pada rutinitas lama yang sempat ditinggalkan. Sebuah pilihan yang mungkin bagi sebagian orang terasa menjemukan, namun bagi saya, ini adalah strategi jitu: kembali menjadikan tempe sebagai teman setia di atas piring nasi. Keputusan ini murni didasari atas perhitungan logis. Dunia yang saya jalani saat ini rasanya sedang tidak ramah dengan isi dompet. Tidak perlu merasa iba, karena ini adalah jalan ninja yang saya pilih dengan sadar. Saya baik-baik saja, bahkan sangat antusias untuk berbagi cerita tentang "seni bertahan hidup" versi saya tahun ini. Dilema Pare: Kemewahan yang Cepat Berlalu Beberapa waktu lalu, saya sempat jatuh cinta pada sayur pare . Lucu memang, dulu saya sangat membenci rasa pahitnya. Kasusnya persis seperti saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota Semarang dan mencicipi Loenpia. Awalnya asing, lama-lama malah jadi kegemaran yang bikin ketagihan. Namun, belakangan...

🎉 Selamat Tahun Baru 2026

Gambar
[ Artikel 159#, kategori catatan ]  Selamat Tahun Baru 2026. Mengawali lembaran kalender kali ini, saya justru merasa sedang "dipaksa" bertarung dengan realita. Ada pergeseran makna yang cukup kontras dalam keseharian saya. Jika dulu bekerja adalah upaya mencari penghasilan, kini bekerja rasanya lebih tepat disebut sebagai upaya membayar cicilan. Siklusnya seolah tak putus; lunas satu pinjaman, muncul tagihan lainnya yang memaksa saya kembali mengambil pinjaman baru. Sebuah dinamika hidup yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, namun kini menjadi kawan setia dalam perjalanan. Tahun Baru yang Sunyi dan Menenangkan Ada perbedaan mencolok pada transisi tahun ini dibanding tahun lalu. Jika di penghujung 2024 saya masih aktif berlari di lapangan mini soccer , akhir tahun 2025 kemarin saya justru lebih memilih kenyamanan di dalam rumah. Tim sepak bola hari Kamis sudah memutuskan libur jauh-jauh hari, sehingga praktis aktivitas fisik terakhir saya berhenti di Senin malam. Menari...

⚽ Menjemput Keringat di Mini Soccer PIP Semarang Saat Libur Natal

Gambar
[ Artikel 17#, kategori mini soccer ] Main bola di hari libur nasional selalu punya cerita tersendiri. Bagi saya, 25 Desember kemarin menjadi momen kedua kalinya menjajal rumput Mini Soccer PIP Semarang (Singosari). Ada pemandangan menarik yang sempat terlintas di pikiran; ini rekan-rekan yang biasa dipanggil "Koko" apa tidak ke gereja ya? Pertanyaan itu muncul spontan mengingat jadwal main kami dimulai pukul 06.00 hingga 08.00 WIB. Sebagian besar rekan main memang non-muslim dan warga keturunan Tionghoa. Namun, rasa penasaran itu saya simpan sendiri. Toh, urusan ibadah adalah ranah pribadi, yang terpenting bagi saya adalah semangat mencari keringat dan menjaga silaturahmi di lapangan hijau. Strategis di Tengah Kota Semarang Jika mencari lapangan mini soccer yang benar-benar berada di jantung kota, PIP Semarang adalah jawabannya. Lokasinya sangat strategis, selemparan batu dari Simpang Lima. Keuntungan utamanya tentu masalah akses. Saya bisa menjangkau lokasi ini hanya deng...

⏳ Kesendirian Ini: Sebuah Penebusan Atas Ambisi Masa Lalu

Gambar
[ Artikel 3#, kategori tak berdaya ] Menjelang akhir tahun, perjalanan singkat menuju lapangan mini soccer mendadak berubah menjadi ruang kontemplasi. Di tengah hiruk-pikuk persiapan orang-orang menyambut pergantian tahun, saya justru merasa sedang berjalan di lorong yang sunyi. Tanpa pasangan, tanpa lingkaran sahabat, bahkan terasa jauh dari keluarga kandung. Tahun 2026 sudah di depan mata. Bagi saya, ini bukan sekadar pergantian angka, melainkan gerbang menuju usia 40 tahun. Sebuah angka yang membawa perasaan campur aduk: antara pencapaian yang patut dibanggakan atau justru lubang kekhawatiran yang kian menganga. Harga Mahal Sebuah Ambisi Saya sering merenung, andai saja dulu saya tidak terlalu ambisius menjadikan hobi sebagai sandaran hidup, mungkinkah ceritanya akan berbeda? Gejolak masa muda seringkali menipu; kita merasa hebat dengan nafsu besar dan dukungan yang seolah tak pernah habis dari orang-orang sekitar. Namun, kenyataannya ambisi tersebut menuntut tumbal yang mahal....

⚽ Penutup Tahun yang Berkesan bersama Sanmaru: Mini Soccer, Hujan, dan Pesta Sate

Gambar
[ Artikel 16#, kategori mini soccer ] Momen Kamis terakhir (18/12) kemarin sebelum libur Natal dan Tahun Baru menjadi penutup tahun yang sangat berharga bagi saya dan tim Sanmaru. Tim ini sebenarnya masih seumur jagung di kancah mini soccer . Terbentuk dari penggabungan tim hari Kamis (PKBF) dan tim hari Selasa (FUSAM), Sanmaru baru mulai merumput di lapangan mini soccer sekitar bulan September lalu. Transisi ini bukan tanpa alasan; lapangan futsal yang biasanya kami sewa kini mulai beralih fungsi menjadi lapangan padel. Meski baru beberapa bulan beradaptasi dengan lapangan yang lebih luas, kebersamaan kami terasa semakin solid. Malam itu menjadi momen penutupan tahun yang rasanya akan terus dikenang di masa depan. Antusiasme saya melonjak ketika panitia Sanmaru memutuskan menambah durasi bermain dari 2 jam menjadi 3 jam. Sejujurnya, sempat terselip keraguan. Bermain selama itu tentu sangat menguras fisik, ditambah lagi risiko pulang yang jauh lebih larut. Sebagai pemain yang men...