📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
[Artikel 94#, kategori Real Madrid] Usai hasil mengecewakan melawan Betis di liga domestik, perjalanan Real Madrid berlanjut ke ajang yang paling dinanti: Liga Champions. Kompetisi ini selalu punya magnitudo berbeda bagi sang raja Eropa asal ibu kota Spanyol. Apalagi musim 2026/2027 ini, ada narasi besar yang menyertainya: kembalinya sang arsitek, Jose Mourinho.
Rabu dini hari (9/9) menjadi panggung awal yang unik bagi Mou. Kembali menduduki kursi pelatih Los Blancos di panggung UCL, takdir justru mempertemukannya langsung dengan Inter Milan—mantan klub yang pernah ia bawa merengkuh treble winner.
Secara permainan di babak pertama, Madrid tampil pragmatis tapi sangat efektif. Ciri khas sentuhan Mourinho langsung terasa. Dua gol yang dilesakkan Kylian Mbappé dan Fede Valverde sudah cukup untuk mengamankan keunggulan dan mengunci tiga poin berharga.
Namun, cerita di babak kedua sedikit berbeda. Inter tampil menekan dan bermain tangguh hingga akhirnya mampu memperkecil kedudukan lewat gol Carlos Augusto. Jujur saja, babak kedua ini memperlihatkan pola yang mulai sering terlihat sejak Mou kembali memegang kendali: Madrid cenderung mengalami penurunan intensitas dan kesulitan menjaga ritme permainan.
Meskipun tiga poin berhasil diamankan di Bernabéu, melihat tim harus "menderita" dan terus digempur di paruh kedua jelas menyisakan sedikit rasa khawatir. Sebagai pendukung, pertanyaan itu wajar muncul: apakah dengan pola permainan seperti ini, tim putih akan mampu berbicara banyak di fase liga hingga babak gugur UCL nanti?
Bagaimanapun, kemenangan ini tetap menjadi langkah awal yang manis untuk mengawali periode kedua Mourinho di Madrid. Momen reuni melawan Inter ini jelas jadi salah satu catatan penting yang layak diarsipkan di blog ini.
Awal musim masih panjang, perjalanan baru saja dimulai. Semoga saja semuanya berjalan lebih lancar dan konsisten ke depannya.
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar