Anggota Komunitas Harus Tahu Visi Komunitas



Seberapa besar cinta anggota terhadap komunitas? Seberapa besar pengorbanan anggota terhadap komunitas? Jika tidak memiliki hati dalam berkomunitas, pastilah senang-senang didapat. Sedikit pengalaman menarik di sabtu (5/11) sore.

Manusia hakekatnya adalah makhluk sosial. Mahkluk yang tidak bisa hidup sendiri. Jika sendiripun, pasti tetap berinteraksi. Ditambah dengan adanya media sosial, kebanyakan orang sekarang kepo sendiri meski senang dengan diri sendiri.



Hari sabtu dimana kantor dotsemarang seharusnya libur, saya kedatangan dua tamu sekaligus plus adek saya, asmadi. Kantor yang kecil ini malah terlihat lebih sempit lagi karena jumlah orang didalamnya semakin penuh.

Kedatangan dua orang kecuali adik saya, membawa kabar baik tentang 2013. Nggak jauh-jauh pembahasannya mulai dari komunitas hingga kota tempat kami tinggal. Sangat menarik dan saya banyak belajar dihari itu.

Semarang vs Bandung

Mengapa Semarang selalu adem? Mungkin nggak perlu dipertanyakan dan diperdebatkan lagi. Semua tahu hal ini. Jawa Tengah, provinsi yang sangat menarik ini tetap melabelkan kota Solo ketimbang ibukotanya sendiri untuk urusan populer.

Semarang, kota yang saya tinggali ini begitu eksotis hingga tak begitu tersentuh. Komunitasnya pun beragam hingga diakhir tahun 2012, mulai pudar semua. Alasan pudar karena tak banyak kelihatan kegiatan offline mereka saat ini.

Kembali ke tahun 1998, dimana sejarah Indonesia mencatat banyak kejadian nasional yang menimpa Indonesia. Saya mendengar dengan seksama, tamu pertama saya bercerita bagaimana Semarang jauh dari hingar bingar kejadian ditahun tersebut. Padahal beberapa kota ikut bergejolak. Dari situlah saya tahu, dan belajar sedikit untuk sadar diri dengan apa yang saya lakuin untuk tahun 2013 ini.

Berbeda dengan Bandung. Dimana kota ini merupakan pusatnya kreatifitas anak muda. Bukan lagi bertaraf nasional, tapi sudah internasional. Orang Bandung khususnya anak muda yang tergabung komunitas sudah memiliki asosiasi yang menaungi komunitas - komunitas didalamnya.

Seperti yang diceritakan, tamu kedua saya. Disana, taman kota yang seharusnya pemerintah kota yang memperbaiki, ternyata oleh anak muda disana selalu digunakan untuk hal - hal positif. Banyak kegiatan dilakuin meski taman tersebut tidaklah sementereng beberapa tahun sekarang.

Dulu, kata tamu saya ini, taman kota di Bandung ada yang becek, kotor dan lainnya. Tapi tidak menyurutkan anak muda disana untuk sekedar bekumpul dan membuat kegiatan. Akhirnya, pemerintah kota melihat ini sebagai alasan membangun taman kota lebih baik lagi.

Kebanyakan mengeluh ketimbang berkorban hati

Saya sadar diri untuk berpikir, tidak mungkin membandingkan kedua kota ini sebagai alasan saya berhenti berkreativitas. Semakin tahu apa yang saya kerjakan semakin banyak informasi yang saya dapat.



Selama ini, banyak orang disekitar saya selalu mengeluh dengan apa yang ada. Padahal jika ditanya soal visi komunitas sendiri, kebanyakan tidak ada yang tahu. Bagaimana bisa mau berkorban jika tidak tahu tujuannya? Seakan beli rambutan karena musiman saja bukan karna alasan lainnya.

Banyak kegiatan yang dibuat dengan kemasan menarik tapi tak berujung menarik. Banyak komunitas hadir yang silih berganti menghiasi kota Semarang tapi tetap mengeluh kota ini masih juga belum menarik? Apa alasan mereka membuat komunitas? Apakah cuma dari rasa kebersamaan, kejenuhan dan kesenangan?

Lalu, apa tujuan dan visi mendirikan komunitas?

Belajar dari kreatifitas orang Bandung, saya tahu sekarang bagaimana memberikan kreatifitas saya sekarang. Membangun kota untuk kemajuan Indonesia memang tidaklah mudah dengan membalikkan telapak tangan. Banyak pengorbanan dan berpeluh keringat untuk bisa mendobrak rasa nyaman yang ada disekitar. Apakah berani?



Kebanyakan orang khususnya di dotsemarang bukanlah masyarakat dari Semarang. Orang-orang disini berpikir yang utama bagaimana bisa menyelesaikan kuliah lalu sarjana dan kembali pulang. Untuk apa membangun diri di kota orang, bukankah dikota sendiri lebih menarik.

Alhasil, komunitas hanyalah tameng untuk berinteraksi menutupi kegalauan sendiri. Mencari sisa pertemanan karena alasan kesendirian dan kebingunan dengan kehidupan sendiri. Komunitas adalah keluarga kedua kala sepi menerjang.

Ada rasa bahagia, berbagi bersama dan rasa memiliki ketika ikatan itu sangat kuat. Tapi, sekali lagi,... itu hanya tameng sambil menunggu beberapa tahun kedepan untuk menyelesaikan tujuang pertama kali kaki melangkah datang di kota ini.

Terlalu berat memang, tulisan ini. Tulisan ini dibuat dari percakapan saya dan orang-orang yang berharap terhadap perubahan bukan kembali dari awal. Buat teman-teman atau pembaca blog ini. Semoga bisa memahami makna berkomunitas.

Jika ingin membuat komunitas, visi komunitas haruslah diketahui anggota yang akan masuk. Seberapa kuat keinginan mereka bergabung. Karena dalam komunitas akan banyak pengorbanan yang dibebani. Berkorban waktu, tenaga dan uang. Apakah sanggup untuk sesuatu yang dibangun?

Jika sudah membentuk komunitas, jangan sampai hilang begitu saja. Apalagi dengan alasan kesibukan masing-masing. Ingat, regenerasi tidak banyak bisa membantu komunitas terus eksis. Regenerasi hanya akan membuat alibi meski terkesan baik.

Cobalah menanamkan hati bila ingin regenerasi. Karena, orang yang akan menggantikan kamu, harus tahu sampai mana visi komunitas ini sendiri. Jangan sampai kehilangan aktivitas karena si regenerasi kebingunan mencari induk utama yang telah pergi entah kemana?

Yuk, tahun 2013. Doakan saya untuk terus bertahan dengan visi dan tanggung jawab saya menjadikan kota ini lebih baik lagi. Terimakasih atas sharingnya untuk kedua tamu saya hari ini.

Salam blogger

Komentar

Postingan populer dari blog ini