Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

🚴‍♂️ Perjuangan Main Bola Kamis Malam: Antara ASUS dan Mini Soccer

[Artikel 27#, kategori mini soccer] Kamis minggu ini (17/9), tantangan main bola di lapangan mini soccer berbeda dari biasanya. Jika biasanya santai bisa langsung meluncur ke lapangan usai sholat Maghrib, kali ini saya sudah harus keluar rumah sejak sore hari. Alasannya sederhana: ada acara ASUS yang kembali datang ke Kota Semarang. Sebagai blogger yang tergabung dalam komunitas mereka, tentu momentum seperti ini sulit untuk dilewatkan.

Alhasil, Kamis malam kemarin fokus dan konsentrasi harus terbagi dua antara menghadiri acara di Hotel Tentrem dan mengejar kick-off mini soccer di Lapangan Barito. Tidak mudah, dan jelas ada yang harus dikorbankan—terutama stamina dan manajemen waktu yang super mepet.

Dilema makin terasa ketika pengurus tim memajukan jadwal main dari yang biasanya jam 7 malam menjadi jam 6 malam. Sungguh pilihan yang bikin kepikiran karena jeda waktunya makin terbatas. Undangan acara ASUS sendiri tertera jam 4 sore. Tapi ya kita tahu sendiri, acara jarang yang bisa mulai tepat waktu. Paling mentok setengah 5 baru mulai, pikir saya waktu itu.

Sebenarnya ada opsi yang paling gampang dan nyaman: naik ojek online. Tinggal pesan lewat aplikasi, duduk manis di jok belakang biarkan driver menembus jalanan Semarang, dan tenaga bisa disimpan utuh untuk diputar di lapangan. Ojol jelas jadi jalan pintas paling rasional kalau mau mengejar dua agenda sekaligus.

Tapi entah kenapa, saya menolak jalan praktis itu dan tetap memilih gowes dengan sepeda lipat kesayangan dari rumah di kawasan Gajah Raya.

Maka dimulailah rute segitiga malam itu: Gajah Raya – Hotel Tentrem – Lapangan Barito.

Sore hari, saya mengayuh pedal menuju Hotel Tentrem untuk mengikuti rangkaian acara ASUS (cerita soal fasilitas parkir sepedanya sudah saya ulas khusus di blog dotsemarang). Semua perlengkapan bola pun sudah saya angkut sekalian dari rumah. 

Membayangkannya saat menulis ini sekarang, apa yang saya lakukan itu rasanya kocak juga. Masa datang ke acara teknologi kelas hotel berbintang sambil menenteng tas berisi baju dan sepatu bola?

Beruntung, acara ASUS akhirnya berakhir sebelum azan Maghrib. Saat saya sudah bersiap-siap bergegas angkat kaki, rekan-rekan sesama blogger menahan saya. Hidangan makan malam rupanya sudah disiapkan. Kata mereka, sayang kalau dilewatkan—dan dipikir-pikir benar juga, nanti malah kepikiran di jalan.

Andai malam itu saya tidak ada jadwal main bola, mungkin saya bisa berlama-lama di Hotel Tentrem. Saya bisa punya lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi lini produk ASUS yang belum sempat saya ulik pas datang sore tadi. Selain itu, saya juga bisa mengobrol santai dengan rekan-rekan blogger lain—mengingat momentum kumpul lengkap seperti ini terbilang langka—termasuk menyapa jajaran tim ASUS yang beberapa wajahnya sudah saya kenal baik.

Tapi apa mau dikata, jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 malam lewat. Untunglah sebelumnya saya sudah berkirim pesan di grup WhatsApp mini soccer kalau bakal datang terlambat. Jelas tidak mungkin bisa datang tepat waktu karena jarak dari Hotel Tentrem ke Lapangan Barito lumayan lumayan jauh, apalagi dengan mengandalkan kayuhan pedal sepeda.

Setelah menempuh perjalanan kurang dari 30 menit, akhirnya saya tiba di lokasi. Malam itu, fisik rasanya terkuras dua kali lipat dibanding Kamis biasanya.

Melihat rekan-rekan sudah memacu bola di lapangan memang menyisakan sedikit rasa bersalah. Apalagi stok penjaga gawang tidak banyak, dan kebetulan saya adalah salah satu yang mengisi posisi kiper tersebut.

Saya tidak bisa menyembunyikan rasa lelah di badan. Namun di sisi lain, saya juga tidak bisa memungkiri betapa senang dan puasnya perasaan ini karena bisa mengamankan kedua momen tersebut dalam satu malam.

Oya, kalau boleh jujur, alasan saya tidak menggunakan ojol sebenarnya bukan cuma soal komitmen atau hobi bersepeda. Tapi ya... isi dompet memang lagi mengering! Saya sudah hafal betul, meski acara yang saya datangi berasal dari merek ternama, amplop uang transportasi tidak akan langsung cair di tempat. Biasanya butuh waktu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Di saat-saat seperti inilah gowes selalu jadi andalan yang paling menyelamatkan.

Pada akhirnya, tetap ada kepuasan mendalam yang tidak bisa digantikan oleh kemudahan naik ojol: bahwa komitmen pada hobi dan acara komunitas bisa sama-sama tuntas tereksekusi, meski harus dibayar dengan kayuhan pedal yang tiada henti.

Artikel terkait:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berapa Jumlah Penggunaan Kuota Internet Bulananmu?