📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
Menutup September dan membuka lembaran Oktober tahun ini, rasanya ada helaan napas yang lumayan panjang. Di usia yang baru saja menginjak kepala empat kemarin, saya pikir pola pikir saya bakal makin tenang menghadapi dinamika lapangan. Tapi ternyata, September kemarin tetap sukses bikin saya elus dada berkali-kali.
Dari luar, bulan kemarin kelihatan sibuk dan menjanjikan. Email masuk beberapa kali, menanyakan rate card, minta detail penawaran, dan ngobrolin potensi kerja sama. Bikin optimis? Jelas. Tapi polanya lagi-lagi sama: antusias di awal, minta informasi secepatnya, lalu mendadak lost contact alias ghosting begitu semua berkas dikirim. Rezeki yang dikira sudah di ambang pintu, nyatanya cuma mampir lewat sebagai bias.
Tapi yang paling bikin kepikiran justru rentetan cerita dari dua event besar yang saya ikuti.
Pertama, soal ASUS. Kehadiran acara mereka di bulan September jelas jadi kabar yang sangat saya nantikan, apalagi setelah kolaborasi di pertengahan tahun lalu. Di tengah hilalnya tawaran lain yang tak kunjung kelihatan, panggilan ini seperti angin segar. Acaranya berkesan, kontennya pun langsung saya garap dan tayangkan secara profesional tanpa tunda-tunda. Sayangnya, urusan hak ternyata butuh napas ekstra panjang. Sampai kalender resmi berganti ke Oktober, pembayarannya belum juga mendarat di rekening. Bikin saya harus ekstra sabar dan pintar-pintar menata ritme dompet.
Cerita kedua datang dari perhelatan pameran mobil GIIAS. Dari awal, jujur saya sudah membulatkan niat untuk tidak ke pameran tersebut. Email undangan pertama pun sengaja saya biarkan. Tapi cerita jadi beda ketika salah satu merek mobil peserta pameran mengontak langsung lewat WhatsApp via agensinya. Saya pikir ini undangan eksklusif dan personal dari merek tersebut, apalagi mereka sampai menghubungi langsung. Karena yang mengundang adalah merek mobil spesifik itu, pertahanan saya melunak dan akhirnya saya setuju hadir.
Demi menjaga hubungan baik dan profesionalitas memenuhi undangan merek tersebut, saya bela-belain datang di hari pertama pembukaan. Supaya cepat dan tak molor, saya bolak-balik ke lokasi naik ojek online. Konferensi pers peluncuran merek mereka saya ikuti dengan fokus, bahkan saya sempat menghabiskan waktu lumayan lama memantau di depan booth mereka.
Lucunya—atau apesnya—begitu saya tanyakan soal ongkos transportasi, jawabannya malah muter-muter. Ujung-ujungnya baru dibilang kalau sebenarnya ada souvenir buat media di meja registrasi booth. Masalahnya, info itu baru disampaikan saat saya sudah di atas ojol perjalanan pulang! Padahal tadi saya berdiri lumayan lama tepat di depan booth merek tersebut tanpa ada pemberitahuan atau koordinasi apa-apa dari pihak sana.
Bukannya dapat rezeki buat nutup operasional dari merek yang mengundang, yang ada malah rugi bandar keluar uang saku sendiri demi bayar ojol bolak-balik. Niatnya profesional menghargai undangan brand, hasilnya malah tekor di jalan.
Lalu, apakah kekesalan berhenti di pameran? Ternyata tidak. Di rumah pun, ujian kecil ikut mampir. Niat hati ingin bantu dan jadi "pahlawan" dengan menalangi dulu uang sampah, eh... sampai masuk Oktober begini uangnya belum juga digantiin sama orang rumah. Kadang apes itu memang tidak perlu jauh-jauh datang dari agensi luar, tapi bisa mampir dari lingkar terdekat yang menganggap urusan ganti uang ini sekadar "ah, nanti dulu."
September kemarin benar-benar tamparan realita yang lumayan berbekas. Mengajarkan saya untuk tidak mudah berprasangka atau kepedean duluan sebelum angka benar-benar masuk di mutasi rekening.
Tapi ya sudahlah. Namanya juga hidup dan dinamika lapangan. Di balik tekor ojol, payment yang molor, dan uang talangan yang menggantung, setidaknya saya masih diberi kesehatan untuk terus mengayuh sepeda, menghadiri event, dan menuliskan cerita-cerita jujur seperti ini.
Memasuki Oktober 2026, pasang filter harus lebih ketat. Mengelola ekspektasi secukupnya, belajar lebih tega untuk bilang tidak pada hal yang kalkulasinya tidak jelas, dan tetap melangkah santai.
Selamat datang Oktober yang jatuh pada hari Kamis (1/10). Semoga bulan ini ceritanya jauh lebih pasti, bukan sekadar angin segar yang cuma numpang lewat.
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar