Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo, Oktober 2023

[Artikel 124#, kategori catatan] Halo, Oktober yang awal bulannya jatuh pada hari Minggu. Sempat menyerah karena rantai sepeda mendadak bermasalah yang ingin ber-CFD-an. Syukurlah, tekad dalam diri belum runtuh. 

Langit Ibu Kota masih cerah di tengah keraguan harus pergi ke luar rumah atau tetap di kamar saja. Apalagi punya alasan karena nonton bola malamnya, jadi bawaannya ngantuk. 

Lebih berwarna

Tinggal 5 bulan lagi cicilan pembayaran ke aplikasi online akan berakhir. Saya sudah menghubungi saudara saya lewat saudara lainnya. Ternyata saya masih diabaikan. 

Sangat berat menjalani hari demi hari, apalagi job yang sepi. Ada pun yang datang, malah dihindari karena dianggap kualifikasinya kurang. Saya senang ketika bisa terlibat, tapi makin ke sini rasanya senyum orang-orang sudah berubah.

Kalau kamu tidak sesuai ekspetasi mereka, tidak peduli seberapa besar pengaruhmu dan hubungan yang terjalin, tetap saja dibuang atau diabaikan.

Saya merenung sambil memegang sapu lidi. Aktivitas lain di rumah selain di depan laptop, yaitu bersih-bersih sekitar rumah. Saya tahu bahwa sangat buruk, tidak berguna dan ditipu keluarga sendiri.

Namun suara gelak tawa anak perempuan si bungsu yang selalu menemanin beraktivitas mengubah segalanya. Seperti sedang memiliki anak sendiri. 

Ia menggemaskan, cantik seperti ibunya dan cerdas. Saya iri rasanya, tapi mau punya anak seperti ini tentu harus nikah dulu. Hahaha..

Mari hentikan berbicara ketidakmampuan saya di umur sekarang. Adanya si anak peremuan di rumah yang baru duduk di TK ini membuat hidup saya lebih berwarna.

Meski kadang ngeselin karena daun-daun yang saya sapu (dikumpulin), malah dihamburin. Atau memukul tubuh saya dengan sapu lainnya karena usai saya kerjain. Menyenangkan meski sejenak.

...

Awal bulan, saya tidak ingin terlalu melihat ke belakang. Mari mulai saja dengan sesuatu yang entah itu baru atau mengulang kembali. Saya mengerti bahwa saya butuh uang untuk melunasi hutang, semoga ada hal baik untuk saya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini