Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mahalnya Sebuah Pertemanan

[Artikel 3#, kategori 37 tahun] Di umur 37 tahun sekarang, orang yang disebut dengan kata 'teman' entah kenapa rasanya sangat mahal. Apalagi sampai disebut dengan 'sahabat', itu lebih sekedar mahal. 

Saya bukan seorang introvert atau pemalu yang lebih diam saat bertemu orang lain. Saya hanya memilih untuk tidak mengambil langkah pertama apabila awal pertemuan. Dan juga, saya lebih membenamkan diri dalam kesunyian ketimbang harus menjalin hubungan dengan yang namanya 'teman'.

Mahal

Saya sedang berada di titik ini sekarang. Meski saya kenal baik atau hanya sekedar tegur sapa dengan seseorang, saya tidak ingin menyebut mereka dengan kata 'teman'. Terlalu mahal soalnya. 

Kata gantinya saya menyebut mereka rekan, ini lebih nyaman. Rekan sendiri mengutip laman jejakpustaka adalah sebutan untuk orang-orang yang dekat dengan kita, hanya saja merucut dalam hal urusan bisnis atau urusan yang berbau resmi.

Ini sesuai kriteria orang-orang yang saya kenal sekarang. Kami hanya bertemu saat-saat tertentu atau momen khusus. Selesai bertemu, kami kembali ke rutinitas masing-masing. Tidak ada percakapan lanjutan atau curhat colongan. Cukup di sana, urusan tertentu.

Teman versi saya

Saya bukan pemilih, malah saat usia muda saya memiliki banyak pertemanan dan tidak ragu untuk membantu. Bahkan sampai saya duduk di bangku perkuliahan, saya memiliki orang-orang yang disebut teman. Dotsemarang awal-awal lahir karena sebuah pertemanan.

Mengutip laman greatmind, teman adalah seseorang yang bisa melihat sisi terlemah kita. Ia bisa menerima kita apa adanya tanpa perlu melihat atribut kita. Entah itu profesi atau apa yang dimiliki.

Saya tidak ingin menunjukkan kelemahan saya sekarang atau ingin mendengar seseorang terlihat lebih lemah dari saya. Itu urusan masing-masing, karena pada akhirnya meski kita mengetahui, kita tetap akan jadi orang asing dikemudian hari.

...

Saya melihat banyak pria di umur saya sekarang, mereka lebih selektif dalam hal pertemanan. Apalagi yang sudah berkeluarga. Mereka tidak butuh teman, karena ada seseorang (istri) di samping mereka.

Bila berteman pun, lebih banyak disebut rekan karena hubungan pekerjaan atau hobi bersama. Saya harap kamu tidak seperti saya sekarang.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini