Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Semoga Bisa Menikah Sekali Aja Seumur Hidup Ini

[Artikel 2#, kategori 37 tahun] Saya memberi batas pada diri saya tentang hubungan asmara, jika umur 40 tahun juga masih belum bisa menikah, saya menyerah dan menjalani hidup seorang diri saja. Pasrah dan mungkin pindah.

Suatu ketika dalam sebuah acara, ada banyak orang-orang muda berada di depan saya yang sedang duduk sambil menikmati senja. Waktu berbuka puasa belum tiba, namun suasana di sini sudah sangat ramai.

Ada pemandangan diantara kerumunan yang sedang mempersiapkan berbuka puasa menarik perhatian mata saya. Wanita cantik dengan pakaian feminim yang rambut panjangnya diikat. Sungguh cantik kala itu.

Namun mendadak perasaan tidak percaya diri saya kambuh. Mau ngajak bicara? Lalu, selanjutnya apa? Tidak bisa, tidak bisa, pikiran saya menekan perasaan saya.

Saya mengandai-andai, situasi ini pernah saya alamin saat berusia 20-an. Mungkin bila saat itu, saya tidak masalah mengajak wanita bicara untuk berkenalan.

Toh, itu hanya ngobrol biasa. Bila dirasa cocok, kami mungkin bisa lanjut. Banyak periode waktu yang saya lakukan saat itu berhasil menggaet wanita. Sekarang?

Sekali saja

Saya kembali dalam pikiran masa lalu ke sekarang. Bila wanita di hadapan saya ini bisa saja ajak bicara pun, saya bingung selanjutnya jika ia mendadak diajak serius untuk dinikahin.

Apalagi latar wanita dan rekan-rekannya itu merupakan pegawai Bank. Langkah saya sudah kalah di awal, meski strategi mendekati wanita saya masih bisa.

Lupakan tentangnya, saya benar-benar tidak memiliki rasa percaya diri. Masa depan yang saya pikirkan begitu jauh, apalagi dengan usia yang tidak muda lagi.

Dalam tiap doa, saya selalu berharap kepada Tuhan. Tolong Tuhan, sekali saja seumur hidup ini, saya merasakan pernikahan dengan seorang wanita. Jangan biarkan saya hidup sendiri dalam sisa umur hidup ini.

Saya akan menerima siapa pun wanita yang Tuhan kirimkan selama itu baik dan bijaksana. 

...

Beberapa tahun ke depan, mungkin saya akan geli sendiri membaca ini. Namun, entahlah. Apakah malah sebaliknya, membuat jadi sedih. Apalagi bila halaman ini benar-benar terkabulkan, saya akhirnya menikah. 

Mungkin saya akan menceritakan kepadanya, betapa khawatirnya saya tentang hubungan. Jika benar-benar tidak terjadi hingga usia 40-an, anggap saja tulisan ini merupakan ramalan masa depan.

Artikel terkait :


Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger