Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Menikah Sekarang Sebaiknya Keduanya Tetap Bekerja

[Artikel 1#, kategori pernikahan] Itu (judul) adalah saran dari rekan futsal yang sebelum bermain di lapangan sedang berbincang dengan saya. Pria yang akan memiliki anak kedua di bulan Oktober mendatang menikah di usia 30-an.

Sebagai orang yang awam alias belum menikah, tentu saran tersebut adalah sangat baik karena era sekarang sangat penting bisa mandiri secara finansial. Apalagi bukan datang dari keluarga kaya raya.

Tidak ada bekingan

Saya jadi teringat dengan almarhumah Ibu saya yang dulu semangat bekerja. Mulai dari jualan cucur hingga jadi asisten rumah tangga, beliau sadar bahwa penghasilan suaminya tidak banyak membantu keluarga.

Ditambah anak-anaknya semuanya sedang bersekolah. Saat memikirkan ini, saya merasa bersalah sendiri. Andai saya mengerti penderitaan orang tua saya yang banting tulang, saya seharusnya memiliki pekerjaan untuk meringankan.

Menjalani pernikahan tanpa adanya bekingan seperti latar belakang keluarga berada sangat sulit. Ada memang yang sanggup dan lancar, tapi yang banyak terjadi sekarang kasus cerai semakin meningkat.

Dulu, era orang tua saya, mungkin masih bisa menahan diri karena alasan peduli dengan anak. Sekarang setelah melihat sering viral kasus cerai yang menikah kurang dari 5 tahun, ekonomi selalu jadi alasan memilih berpisah. 

Mandiri secara finansial

Bagaimana jika gaji salah satunya lebih besar? Bukannya bisa menutupin dan salah satunya tidak perlu bekerja? Ah, ini pertanyaan sulit karena saya tidak berpengalaman.

Namun dari sudut pandang pribadi, seperti yang saya katakan jika tidak ada bekingan pasti tetap kesulitan. Orang-orang sekarang, bahkan keluarga, sangat sulit dipercaya. Memang mau minjan uang saat kebutuhan sendiri jadi bahan omongan?

Bila suami istri bekerja, itu artinya mereka siap mandiri secara finansial hingga masa depan. Kebutuhan bukan hanya tentang diri sendiri, ada anak yang akan dewasa. Dan tentu kebutuhannya semakin besar.

Mandiri secara finansial juga berarti ingin mensejahterakan keluarga di masa depan. Tidak mungkin kan, bertahan dengan yang itu-itu saja. Seperti rumah, kendaraan, pakaian dan sebagainya.

Lalu, bagaimana ketika nanti punya bayi? Masalah-masalah seperti itu tentu ada solusinya masing-masing. Semisal cuti hamil atau rehat dari pekerjaan sejenak dan sebagainya.

Artikel yang saya tulis ini hanya gambaran luarnya saja atau secara umum. Jadi, masih dangkal. Namun tetap jadi saran yang baik untuk diterjemahkan apabila ingin menikah. Apalagi saran ini datang dari rekan saya yang sudah menikah.

...

Saya mengerti bahwa saya harus pelan-pelan memasukkan informasi ini dalam pikiran saya. Semacam persiapan jika kelak saya akhirnya menikah juga.

Sudut pandang orang-orang yang saya temui sangat penting untuk membantu saya mendapatkan saran terbaik dari mereka. Jika ini berguna buat yang baca, saya senang sekali. Namun sebaliknya, jika tidak penting anggap saja sebagai bacaan selingan menemani waktu senggangmu.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini