Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Masak dan Kulkas

[Artikel 16#, kategori rumah tangga] Tetap tenang, ini bukan mertua saya. Lawong belum nikah, owk. Awalnya saya pikir akan ada pesta makanan di meja makan, namun sebaliknya. Bau masak yang begitu nikmat mendadak hilang, lalu kemana makanannya?

Akhir bulan Agustus kemarin, mertua keluarga si bungsu datang ke rumah. Sebagai salah satu penghuni rumah, sudah terbiasa melihat orang datang dan pergi. Setidaknya saat ada orang datang, rumah terasa menyenangkan karena lebih ramai.

Memasak

Kasih sayang, mungkin begitu menyebutnya. Saya yang melihat aktivitas di dapur begitu sibuk dengan bahan-bahan memasak, jadi iri dengan keluarga kecil ini. Kapan saya bisa punya mertua yang suka memasak?

Karena ini bukan kali pertama, saya jadi memilih menghindar dan berdiam di kamar. Padahal biasanya juga kebanyakan di kamar.

Harum bau makanan begitu menggungah selera. Apalagi ini waktunya makan siang juga. Pas sekali pikir saya sambil membuka pintu dan menuju dapur.

Kulkas

Apa yang terjadi? Tidak ada satu pun makanan di meja dari aktivitas memasak tadi. Ada pun hanya jajanan yang dibeli. Di mana bau harum tadi yang begitu familiar dan menggugah selera makan saya.

Ah, saya lupa siapa diri saya di sini. Bukan anak, apalagi suami si anak ibu (mertua) tadi yang menghabiskan waktunya di dapur.

Semua makanan yang sudah dimasak, ternyata ditaruh di kulkas. Baru tahu cara begini jika nanti telah menikah dan mertua datang ke rumah.

Semua udah diberi tempatnya masing-masing. Bisa dimakan sewaktu-waktu tanpa repot lagi memasak. Dan hanya perlu memanaskan saja makanannya.

Tentu, saya tidak berani mengambilnya meski ada di dalam kulkas. Apalagi tidak disuruh atau diberitahu, ya meski tahu aktivitas masak memasak itu.

Namun terkadang, si menantu tetap bagiin saat ia sedang makan bareng suaminya. Saya selalu bersyukur bahwa tidak selalu makan makanan itu saja (mie bungkus). Ada orang baik yang masih peduli. Entahlah.

...

Saya tahu ekspetasi saya mendadak jatuh. Namun bila dilihat dari sisi lain, saya merasa iri dengan kehidupan orang yang sudah menikah. Kunjungan mertua, dimasakkan dan rasa percaya yang ditanamkan.

Sepertinya harus memikirkan juga cari pasangan yang ibunya bisa memasak. Kan seru tuh kalau sedang berkunjung ke rumah. Nanti dimasakkan juga. Haha.. bercanda.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger