Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kedatangan Mertua

[Artikel 14#, kategori rumah tangga] Ini adalah kunjungan pertama mertua si bungsu datang ke rumah. Itu artinya saya masih belum bisa menikmati kesepian yang terasa sangat berharga di usia kepala tiga. Ya, kudu bersabar saja dan mari menikmati senja.

Pemilik rumah sudah balik dan digantikan mertua si bungsu yang datang. Kedatangan mereka yang pertama juga tatap muka pertama mereka dengan saya di rumah (Semarang).

Sepertinya masih mending pemilik rumah jika membandingkan keadaan bila sedang di sini (rumah). Selain lebih kenal, saya masih bebas keluar kamar.

Dia bukan mertua saya, jadi saya tidak ada beban. Hanya merasa tidak enak dan ruang gerak saya semakin sempit saja.  

Kamar utama

Mertua yang datang menempati kamar utama pemilik rumah. Tak perlu repot harus mencari hotel hanya untuk menengok menantu atau cucunya sendiri. Mereka lebih dekat dan pastinya itu membuat semuanya nyaman.

Saya ngebayangin andai sudah nikah dan hanya tinggal di kos-kosan. Kasian mertua yang ingin nengok. Niatnya bahagia bertemu anak kesayangan mereka, malah diribetkan urusan penginapan.

...

Mertua si bungsu luar biasa. Sepertinya anak perempuannya sama persis seperti Ayahnya. Saya melihat pemandangan keduanya sama-sama rajin saat berhadapan dengan sesuatu seperti memperbaiki, memasang (jemuran) dan lainnya.

Saya pikir si bungsu sangat beruntung memiliki istri dan mertua seperti mereka. Bahkan saya merasa cocok keduanya, satu yang hobi berantakan barang dan satu hobi membersihkan.

Kapan kira-kira saya memiliki istri dan mertua untuk saya ceritakan sendiri?

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini