Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mio, Sebuah Kenangan

[Artikel 1#, kategori kenangan] Kendaraan pertama yang saya miliki saat tinggal di Kota Semarang awal-awal adalah Mio putih ini. Bukan hanya sebagai teman, tapi sebuah kenangan yang masih tinggal bersama saya. Sayang, ia sekarang tidak terurus. Orang-orang rumah meminta saya segera menjualnya.

Entah apa yang mereka pikirkan tentang kendaraan ini yang terbelengkalai di belakang rumah. Rongsokan, motor tidak bisa dipakai atau sampah?

Kenangan

Lagi, saya diminta untuk segera menyingkirkan barang paling berharga yang saya miliki. Jual saja, itu permintaan yang sering saya dengar setahun belakangan ini.


Mereka seperti melihat sampah yang menganggu pemandangan tanpa melihat saya sebagai pemiliknya. Memang saya dibelikan waktu itu, tapi haknya tetap milik saya sebagai pemilik.

Terlalu banyak kenangan yang dibuat dengan kendaraan merek Yamaha ini. Dari perjuangan kuliah, pacaran hingga membangun rekan-rekan sampai luar kota.

Kenangan tidak bisa dibeli dan tidak bisa diulang kembali. Itu yang buat mahal meski keadaannya sekarang tidak bisa apa-apa.

Jika andai suatu hari sudah tidak di rumah ini, saya harap keberadaannya berada di orang yang tepat. Memang disayangkan bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa karena keterbasan.

Saya harap bisa mempertahankannya.

Artikel terkait :

  • Belum tersedia

Komentar

Postingan populer dari blog ini