Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Cari Calon Pasangan Lewat Aplikasi Tinder


[Artikel 4#, kategori 37 tahun] Nggak bahaya, tah? Semua kembali pada penggunanya. Seberapa cerdas untuk membedakan mana yang ngibul atau serius. Setidaknya, Tinder memberi solusi kepada mereka yang menganggap dunia tak lagi sama seperti saya.

Entah sudah berapa tahun saya memakai Tinder. Sempat membuangnya, lalu kembali menginstall-nya. Sebagai pengguna, saya tidak ragu atau malu mengatakan ini. Saya baik-baik saja hingga sekarang.

Pernah dapat calon gebetan?

Dengan umur saya sekarang di atas 30-an, orang yang malas keluar rumah kalau tidak ada kepentingan, aplikasi Tinder semacam bantuan sederhana.

Saya berhasil beberapa kali menjalin pertemanan di sana, meski tidak pernah berlanjut hingga hubungan yang serius. Maksudnya hingga pacaran.

Alasannya, butuh kepastian dan pemahaman yang tidak sebentar. Yang kita hadapi adalah seseorang yang menaruh gambar di sana (Tinder). Bagaimana dengan sosok aslinya?

Mulai tukar nomor hingga menjalin komunikasi berbulan-bulan dengan rasa nyaman. Sayang, semua itu hanya berlalu begitu saja.

Usia 30-an

Meski aplikasi ini sedikit menghibur karna rasa penasaran apakah dia menerima permintaan pertemanan kita, Tinder tetaplah alternatif. Jangan jadi acuan sepenuhnya mencari pertemanan di sana.

Menjadi pria berkepala 3, terkadang saya senang apabila mendapatkan calon gebetan yang usianya 20-an. Sayangnya, saya pernah ingin dimanfaatkan. Nanti saya cerita kapan-kapan.

Saya tidak berharap ada seseorang yang umurnya di bawah 30-an terlalu getol memakai Tinder. Aplikasi ini memang bagus, tapi menjalin hubungan di usia muda sangatlah penting.

Banyakin jumpai orang baru dan bertemu. Biasanya jiwa muda yang masih berumur 20-an sangat mudah dan berapi-api. 

Berbeda dengan mereka yang sudah berusia 30-an seperti saya. Apalagi belum menikah dan berstatus single. Orang-orang ini semakin terbenam dengan pekerjaan dan rasa tanggung jawabnya kepada sekitar, khususnya keluarga.

Tinder menjadi penghubung antara rasa kesunyian dan kemandirian seseorang yang tidak ingin diribetkan permasalahan mencari pasangan.

Orang-orang yang berumur 30-an sangat serius menjalin hubungan, mereka tidak ingin putus begitu saja di tengah jalan. Atau harus kembali merasakan kesedihan karena dipermainkan.

Bagaimana denganmu, apakah pengguna aplikasi Tinder juta? 

📝 Gambar : Hasil generate AI

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini