📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
[Artikel 133#, kategori MU] Harapan di awal musim itu selalu manis. Amunisi baru, jersey baru, dan optimisme yang melambung tinggi. Tapi saat peluit pertama Liga Inggris musim 2026/2027 dibunyikan pada Sabtu malam (22/8/2026) lalu, realita justru menampar dengan skenario yang terasa sangat familiar. Manchester United kembali menelan kekalahan di laga pembuka, takluk 2-0 dari Hull City di MKM Stadium.
Jujur saja, saya sendiri belum ada dorongan kuat untuk menyaksikan pertandingan MU di awal musim baru ini. Firasat itu terbukti. Padahal jam kick-off malam itu terbilang sangat ramah untuk wilayah Indonesia—sekitar jam 7 malam kurang. Namun, performa di lapangan menunjukkan penyakit lama: permainan yang masih belum stabil.
Keinginan menulis catatan ini makin menggelitik saat saya membuka arsip blog pribadi. Ternyata, alur ceritanya persis seperti tahun lalu. Pada pekan perdana musim 2025/2026, MU juga keok dari Arsenal. Membaca kembali tulisan lama rasanya bikin geli sekaligus mengelus dada. Apakah ini yang dinamakan dejavu yang disengaja?
Secara statistik pertandingan, MU sebenarnya sangat mendominasi penguasaan bola hingga 72%. Namun angka-angka itu terasa hampa karena masalah klasik yang tak kunjung usai: antisipasi set-piece. Dua gol kemenangan tuan rumah yang dilesakkan oleh Semi Ajayi dan Nobel Mendy di babak pertama semuanya bersumber dari skenario bola mati. Taktik penyerangan tumpul, sementara barisan pertahanan gagap meredam skema simpel lawan.
Di luar urusan teknis dan taktis lapangan, ada bumbu cerita lokal yang membuat atmosfer pertandingan malam itu makin tragis—sekaligus menyisakan sedikit rasa bersalah pada diri saya.
Beberapa jam sebelum kick-off, saya sempat membagikan info acara nonton bareng (nobar) dari komunitas penggemar MU Semarang yang digelar di Novotel Semarang. Informasi yang saya dapat dari platform X itu saya teruskan ke grup WhatsApp rekan-rekan main bola. Tak disangka, salah satu teman rupanya terpikat. Ia bahkan rela berangkat sendirian ke lokasi demi merayakan optimisme laga pertama.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya duduk sendirian di tengah riuhnya ruangan, dikelilingi sesama pendukung yang berharap perayaan menang, tetapi sepanjang 90 menit justru disuguhi permainan yang bikin urut dada. Pulang nobar membawa kepala pusing dan rasa kecewa berat, sementara saya—sang pembagi informasi—hanya bisa tersenyum sendiri menyadari betapa "apes" rekomendasi malam itu.
Pekan pertama memang baru titik start dari maraton panjang satu musim kompetisi. Namun jika penyakit lama dan hasil pahit selalu berulang setiap kali musim berganti, wajar saja kalau rasa optimisme perlahan berubah jadi kepasrahan yang menggelitik. Kita lihat saja nanti, apakah kekalahan dari Hull City ini sekadar ganjalan di awal atau justru sinopsis dari keseluruhan perjalanan musim ini.
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar