📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
[Artikel 92#, kategori rumah] Ada perubahan menarik yang terjadi di sekitar saya dalam beberapa bulan belakangan. Sesuatu yang terasa positif dan menenangkan batin, meski di saat yang sama tetap menerbitkan rasa penasaran. Dalam hati, pertanyaan itu kerap muncul: ada apa sebenarnya?
Suasana rumah pada waktu Subuh biasanya memiliki ritme yang sangat terpola. Suara kran air dari kamar mandi, denting peralatan dapur yang mulai diposisikan, atau sekadar sunyi yang perlahan terkikis oleh datangnya fajar. Namun, beberapa waktu belakangan, ada warna baru yang hadir di rumah yang saya tempati ini.
Sejak tinggal bersama kerabat—yang kini dihuni oleh anak bungsu dari Om saya beserta keluarga kecilnya (istri dan dua anak)—perubahan ini pelan-pelan menarik perhatian. Sebagai orang yang menumpang di sini, hadirnya rutinitas baru tentu menjadi dinamika tersendiri yang sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa dicatat.
Perubahan yang paling terasa adalah munculnya suara lantunan mengaji setiap usai sholat Subuh.
Ini bukan kebiasaan lama yang diulang. Ini benar-benar kebiasaan baru yang hadir secara konsisten. Kebiasaan tersebut biasanya hanya absen saat ia benar-benar dilanda kelelahan fisik atau ketika mendapat tugas jaga malam di rumah sakit—maklum, kerabat saya ini berprofesi sebagai seorang dokter.
Suaranya biasa terdengar sayup-sayup dari arah ruang tengah. Mendengarkan lembar demi lembar ayat yang dibaca perlahan menerbitkan rasa penasaran yang jujur: mengapa tiba-tiba ada kebiasaan baru ini?
Sebagai pengamat dari jarak dekat, ada beberapa perenungan personal yang terlintas.
Antara Tekanan Rumah Sakit dan Ketenangan Batin
Dunia medis adalah dunia yang sangat intens. Saban hari seorang dokter harus berhadapan dengan keputusan kritis, dinamika kesehatan pasien, kelelahan fisik yang menumpuk, hingga tekanan emosional yang tak selalu mudah diceritakan kepada orang lain.
Mungkin, mengaji usai Subuh menjadi caranya untuk decompressing—melepas beban batin dan ketegangan setelah berkejaran dengan waktu di ruang perawatan. Sebuah jeda ruang dan waktu untuk menyadarkan diri atas batas kemampuan manusiawi.
Jangkar Kecil untuk Keluarga
Atau mungkin, ini adalah bagian dari fase pendewasaan dirinya sebagai kepala rumah tangga. Kehadiran istri dan anak-anak yang sedang tumbuh kerap membawa titik kesadaran baru bagi seorang pria. Ada dorongan alami untuk menghadirkan atmosfer yang menenangkan sekaligus memberi fondasi spiritual di dalam rumah, sekecil apa pun bentuknya.
Atmosfer Rumah yang Ikut Berubah
Terlepas dari alasan utamanya yang menjadi rahasia batinnya sendiri, kebiasaan baru ini pelan-pelan mengubah vibes di dalam rumah. Pagi hari yang biasanya langsung diisi kesibukan bersiap-siap kini memiliki penanda waktu yang jauh lebih tenang. Ada rasa adem yang menjalar ke ruangan lain, termasuk ke dalam kamar tempat saya berada.
Memperhatikan perubahan positif dari orang terdekat memberi cermin refleksi tersendiri. Kadang, kita tak perlu bertanya secara langsung atau menginterogasi alasan di baliknya. Cukup menikmati dampak baiknya dan membiarkan momen tenang itu menyapa pagi kita dengan caranya sendiri.
📝 Gambar hanya ilustrasi.
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar