📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
[Artikel 167#, kategori catatan] Selamat datang, Agustus. Bulan yang selalu identik dengan umbul-umbul merah putih, pekik merdeka, dan semangat yang mendadak ikut terpompa. Bagi saya pribadi, Agustus kali ini terasa sedikit berbeda. Ini adalah bulan penuh pertama saya melangkah dengan status baru: seorang pria yang resmi menginjakkan kaki di usia 40 tahun.
Mundur sedikit ke bulan Juli lalu, rasanya seperti melewati gerbang yang penuh kejutan. Ada banyak pencapaian luar biasa yang datang bertubi-tubi. Beberapa kerja sama profesional di blog kembali berjalan lancar, memberikan napas segar yang sangat berarti. Hasil dari kerja keras itu perlahan-lahan membantu saya menyelesaikan beberapa kewajiban finansial, termasuk menutup pos pinjaman online yang sempat menjadi beban pikiran. Sebuah langkah kecil menuju kemerdekaan finansial yang sesungguhnya.
Di tengah situasi itu, saya juga dipaksa mengambil keputusan darurat yang tidak mudah. Sebuah langkah yang awalnya saya rencanakan baru akan dieksekusi tahun depan: membeli sebuah device baru. Meskipun barang second dan biayanya cukup merobek kantong untuk ukuran anggaran darurat, keputusan ini harus diambil. Kini, sebuah smartphone baru sudah berada di genggaman, menggantikan perangkat pinjaman yang belakangan sering rewel, terutama urusan baterai yang bocor. Memiliki senjata andalan sendiri, meski bukan barang baru dari toko, membawa rasa tenang tersendiri untuk terus produktif.
Berbicara soal ketenangan, usia kepala empat ini benar-benar mengubah cara pandang saya. Dulu mungkin kita sering mendengar kalimat klise bahwa uang bukanlah segalanya. Tapi mari kita jujur pada realitas hari ini: harapan untuk hidup tenang rasanya mustahil menjadi skala prioritas utama jika isi dompet tidak mendukung. Uang memang bukan segalanya, tetapi dengan adanya uang, hidup terasa jauh lebih tenang dan terukur.
Namun, di balik semangat baru dan senjata baru ini, tantangan terbesar yang mulai melambaikan tangan di usia 40 adalah menjaga tubuh. Kesehatan mendadak jadi investasi paling mahal. Dalam dua bulan terakhir, saya harus berurusan dengan masalah pencernaan yang cukup menguras energi. Saya kadang tersenyum getir dalam hati, apakah ini semacam penyakit khas pria single yang telat makan?
Ya, hidup sendiri memang tidak pernah mudah. Walaupun ada kerabat yang tinggal di kamar sebelah, ruang sunyi sebagai pria lajang di usia matang tetaplah ada. Harapan untuk menemukan seseorang yang menemani sisa perjalanan ini tentu masih tersimpan rapat di kepala. Meski entah bagaimana caranya nanti, saya memilih untuk membiarkan takdir bekerja dengan caranya sendiri.
Agustus sudah mengetuk pintu. Selamat datang perjalanan baru di usia kepala empat. Setahun ke depan, saya yakin kisah-kisah yang tertulis akan jauh lebih menarik, lebih menantang, dan lebih mendewasakan dibanding saat saya berusia 39 tahun lalu.
Mari kita mulai, lembaran baru ini!
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar