📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
[Artikel 3#, kategori Pralastic] Beberapa minggu ini, perasaan saya tidak tenang. Memikirkan sesuatu yang sebenarnya bukan ranah saya, namun entah kenapa itu terus membayangi isi kepala. Seharusnya saya ikut bahagia melihat momen tersebut, namun ada pertanyaan dalam lubuk hati dari kacamata pria biasa yang kini tlah berusia 40 tahun.
Dini hari ini, akhirnya saya menuangkannya juga dalam tulisan. Pikiran saya kembali mengingat tentang momen hubungan yang dibagikan lewat Instagram. Perempuan cantik, anggun, berkelas dan labelnya duta wisata.
Di foto-foto pernikahannya, senyum kebahagiaan memancar jelas. Sebagian besar orang tentu akan ikut bersukacita melihatnya. Tapi di sudut kepala saya, ada sekilas ganjalan—bukan karena cemburu atau memendam rasa, melainkan karena pola yang rasanya dejavu.
Pria yang berdiri bersampingan dengannya di pelaminan adalah seorang prajurit berseragam (kalau tidak salah dari angkatan laut). Kejadian ini langsung mengingatkan saya pada rekan sesama duta wisata lainnya beberapa waktu lalu, yang juga menautkan janji sucinya dengan seorang anggota kepolisian.
Dua perempuan cantik, anggun, berlabel "duta wisata", dan sama-sama menjatuhkan pilihan pada pria berseragam.
Melihat pola yang berulang ini, muncul pertanyaan polos dalam diri saya: Apakah pria biasa tidak menarik di mata mereka? Ataukah memang ada daya tarik lain dari seragam yang sulit ditandingi?
Sebagai pria yang sudah makan asam garam kehidupan dan kini menginjak usia kepala empat, saya mencoba melihat fenomena ini secara jernih. Tanpa mengurangi rasa bahagia buat mereka, ada realitas sosial yang menarik untuk dipahami.
Harus diakui, seragam bukan cuma sekadar pakaian dinas. Di mata masyarakat, seragam adalah validator instan. Tanpa perlu banyak cerita atau pembuktian panjang lebar, seragam langsung menyimbolkan kepastian karier, stabilitas, ketegasan, hingga status sosial.
Untuk sosok perempuan seperti duta wisata—yang terbiasa tampil di depan publik, membawa citra daerah, dan punya standar tinggi—pasangan berseragam memberikan representasi yang selaras dan terpandang di mata publik.
Lantas, bagaimana dengan pria biasa yang berjuang di jalur swasta, pekerja kreatif, atau wirausaha? Apakah tidak punya peluang?
Tentu tetap punya. Bedanya, pria biasa harus membangun "panggung"-nya sendiri dari nol. Butuh waktu bertahun-tahun, konsistensi, dan perjuangan berdarah-darah untuk membuktikan stabilitas diri. Pria berseragam seolah mendapat tiket "jalur cepat" karena panggung institusionalnya sudah terbentuk sejak awal, sedangkan pria biasa harus merintis fondasinya satu per satu.
Di usia 40 tahun ini, cara pandang saya tentu sudah tidak lagi naif. Kalau ada pria biasa yang bercita-cita menyunting perempuan berkelas, cantik, dan punya panggung sosial seperti duta wisata, pilihannya realistis saja: kalau tidak punya privilege materi atau jaringan yang kuat, ya jalur seragam memang jadi salah satu opsi paling ampuh.
Ia memangkas keraguan tentang jaminan masa depan yang kerap jadi pertimbangan utama ketika pasangan memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan.
Pada akhirnya, jodoh dan rasa cinta tetaplah misteri yang punya takdirnya masing-masing. Tulisan ini bukan untuk menyudutkan pilihan para perempuan cantik berlabel duta wisata, bukan pula untuk mengerdilkan semangat para pria biasa. Selamat untuk mereka yang telah menemukan kebahagiaannya.
Bagi kita para pria biasa, fenomena ini bukanlah alasan untuk berkecil hati. Ini cuma pengingat bahwa panggung tiap orang berbeda. Jika kita tidak memiliki "seragam" atau privilege khusus, maka yang perlu kita perkuat adalah kapasitas diri, karakter, dan ketekunan. Perjuangannya mungkin butuh napas yang lebih panjang, tapi hasil dari kerja keras sendiri selalu punya pesona dan nilainya tersendiri.
📝 Foto ilustrasi: Dokumentasi pribadi saat gladi bersih upacara bendera di Simpang Lima, Semarang.
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar