Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Ada yang Harus Dibayar Untuk Mendapatkan Kebahagiaan

[Artikel 71#, kategori Pria Seksi] Orang di depan saya adalah teman kuliah yang bagi saya dia sudah sempurna. Punya pekerjaan, istri cantik, anak-anak dan dia datang ke sini menggunakan mobil. 360 derajat dengan saya yang masih tidak ada apa-apanya. Saya tahu kapasitas saya, ini bukan merendah. Namun...

Lama tidak berjumpa dengan teman lama. Sekali berjumpa, niatnya silaturahmi dan bicara bisnis, malah berakhir curhat. Mau gimana lagi, kenangan lama begitu berarti di umur sekarang. 

Ada yang harus dibayar

Saya mengenang kisah kami saat bertemu dengan beberapa wanita waktu dulu. Teman saya ini memang tampangnya lumayan, maka saat bertemu, ia yang minta temanin malah membuat saya dan rekan wanitanya double date.

Mending kalau teman si wanitanya sama-sama cakep. Ini malah saya dikasih yang di luar ekpetasi. Untungnya niat saya hanya untuk membantu. Sayang ia gagal mendapatkan kisah asmaranya waktu itu, padahal si wanitanya cakep menurut saya.

Sekarang, ia adalah suami sekaligus seorang ayah. Ia bercerita tentang bagaimana ia berkenalan dengan calon istrinya lewat perkenalan singkat. Ia dikenalkan oleh seseorang dan ia tak butuh lama untuk mengajaknya langsung menikah. Pacaran setelah resmi jadi pasangan.

Mendengar ceritanya seolah semesta mendukungnya. Istri yang berprofesi dokter, anak tunggal dan suksesnya menaklukkan calon mertuanya adalah cerita bahagianya.

Namun, kisahnya tak semulus jalan raya. Ada harga yang harus dibayar untuk kebahagiaan dan kesuksesannya. Istrinya sempat keguguran, dan bukan sekali. Kalau tidak salah dua kali. 

Sampai titik ini, saya terenyuh mendengarnya. Meski teman saya ini tak menampakkan wajah sedih, saya tahu betapa rapuhnya dia dari sorotan matanya. 

Entah, apakah ini pembelajaran kepada saya untuk lebih menghargai diri yang masih belum menikah atau peringatan untuk nanti kala saya akan jadi calon ayah. Perhatikan kondisi istrimu.

...

Saat saya berpikir belum sempurna karena belum menikah, saya diberikan tentang makna hidup yang sangat berarti. Menjadi sempurna memang tidak mudah, tapi semua orang berharap untuk itu (sempurna).

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini