Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dengan punya uang, Segalanya Jadi Mudah

[Artikel 22#, kategori keluarga] Andai saya bisa kembali saat SMA namun dengan pikiran sekarang, saya akan nabung terus. Rasanya inilah hikmah yang bisa dipetik saat usia 30 tahun lebih. Uang adalah segalanya.

Saya yang tidak merokok, tidak berjudi dan miras hingga konsumsi narkoba. Pekerjaan saya juga terlihat santai, makanya duitnya tidak besar. 

Saya sudah mengurangi interaksi bertemu orang untuk sekedar haha hihi atau menginspirasi dari kata dan perbuatan. Namun, masalah tetap saja datang menghampiri yang tak pernah dibayangkan.

Andai waktu bisa diulang

Wanita hebat itu kembali tumbang, seolah mengulang kejadian tahun 2015. Apesnya yang dibutuhkan adalah uang yang banyak untuk membawa beliau ke rumah sakit. 

Dengan pekerjaan utama sebagai bloger, tentu saja kesulitan. Ditambah yang lain juga sama saja, baik saudara sendiri maupun si pendamping wanita hebat tersebut.

Jika ini adalah ramalan masa depan, saya ingin kembali mengulang waktu. Kalau bisa pada jaman SMA saat kami satu keluarga masih baik-baik saja saat itu.

Yang ingin saya lakukan adalah menabung, setidaknya seribu sehari atau seminggu. Tabungan tidak ingin saya ambil hingga 20 tahun ke depan.

Tabungan tersebut akan berguna meski nominalnya saat menabung sangat kecil di masa depan. Mungkin saja ada kejadian keluarga jatuh sakit atau biaya buat nikah.

Sebagai orang yang lahir bukan dari kalangan kelas menengah ke atas, sangat sulit mengandalkan dua orang hebat yang melahirkan dan membesarkan. Saya harap mimpi itu terwujud.

Uang segalanya

Sekarang saya kembali merasakan ketika uang adalah segalanya. Uang untuk biaya-biaya yang tujuannya lebih penting. Uang yang bisa menyambung tali silaturahmi dan sebagainya.

Saya tahu jika hidup sendiri uang masih bisa diakali. Saya bisa berhemat sehemat mungkin. Hanya saja masalah yang datang malah bukan dari saya seorang.

Masalah itu datang dari keluarga yang sepertinya selalu baik-baik saja meski jarang menghubungi. Saya mengerti, saya adalah bagian dari keluarga. Setidaknya punya kesadaran diri untuk bisa diandalkan oleh mereka.

Saya jadi menyesal apakah menjadi bloger pilihan yang tepat. Di mana kebutuhan soal uang adalah paling penting sekarang.

...

Beban ini mendadak jadi besar. Kehidupan normal yang diidamkan jauh dari hingar bingar, mendadak jadi pikiran. Andai saya tahu masa depan seperti apa, saya tidak ingin melakukan kesalahan yang berulang.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini