Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bayarin Hutang Orang Lain

[Artikel 20#, kategori keluarga] Saya tak pernah berharap dan tidak ingin berhutang dengan kondisi apapun saat ini. Bahkan, 5 tahun belakangan saya bebas hutang. Namun entah kenapa memasuki tahun 2022, malah saya bayarin hutang orang lain.

Begitu mudah sekali uang yang saya simpan itu melayang. Padahal hasil jerih payah dari blog. Apalagi tidak mudah mendapatkan penghasilan dari blog yang tidak begitu mengandalkan adsen. Mau gimana lagi, demi keluarga.

Bayarin hutang

Saya mengerti mengungkapkan ini terasa buruk dimata orang lain. Tapi, tujuan saya menulis ini untuk mengingat kembali saat saya sudah berada di masa depan.

Halo, saya dari masa depan. Perjuanganmu hari ini semoga terbalas dan kamu baik-baik saja. Tidak apa-apa, lagian ini juga demi keluarga.

Apa yang terjadi? Saya mau nggak mau bayarin hutang yang tidak saya lakukan. Marah sekali rasanya pada diri sendiri.

Saya pikir hidup saya aman karena tidak terbelenggu hutang, eh malah tetap saja saya yang ikut berjuang. Tahu gitu di umur sekarang, saya tidak akan sia-siakan masa muda yang masih begitu polos soal uang.

Entah sampai kapan saya harus ikut berjuang karena hutang orang lain. Apakah kehidupan sebelumnya saya memiliki kesalahan sehingga harus menderita sekarang? Atau ini hanya cara Tuhan saja memberi cobaan. Semoga saja.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini