Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo Juni 2022

[Artikel 104#, kategori catatan] Ternyata sudah satu tahun berlalu semenjak saya pulang kampung. Kondisinya mirip, maksudnya suasana di rumah Semarang yang sedang ramai sekarang dan setahun lalu. Hanya saja, bulan ini jadi lebih berat karena masalah keluarga. Entahlah, apakah saya sanggup hingga akhir?

Awal bulan Juni, Kota Semarang sudah disapa dengan hujan sore harinya. Saya pikir, bulan Juni akan lebih terang benderang setiap hari. Oh ya, tanggal 1 Juni diperingati Hari Lahir Pancasila. Orang-orang yang bekerja di instansi pemerintahan maupun swasta mendapatkan libur satu hari.

Pria tidak akan berubah

Berapa lama pun tidak bertemu, bahkan tidak berbicara, sikap pria (di sini orang-orang yang saya kenal) tidak akan pernah bisa berubah. Saya mengalaminya itu.

Terlebih sesuatu yang berhubungan dengan kesenangan seperti begadang, minum atau merokok. Wajar saja memang, namun bagaimana dengan yang sudah berkeluarga. Saya harap bila di masa depan akhirnya saya menikah, bisa mengubah sikap buruk saya.

Menanggung hutang

Saya tidak pernah menyangka berada diposisi ini sekarang, menanggung hutang. Padahal saya berusaha konsisten menabung untuk masa depan yang dirasa masih sangat suram dan sekarang, saya harus disuruh membayar untuk apa yang tidak saya lakukan.

Tanggung jawab sebagai anak tertua hari ini menjadi beban kala sang adik terjerat hutang berkepanjangan. Entah kenapa generasi Z yang dianggap luar biasa bagi orang pemasar, dalam kenyataannya adalah beban.

Di sini, bukan melimpahkan ke semua generasi Z, maksud saya tentang adik saya. Entah kenapa sifat kompetitifnya kalah dengan beban yang diterimanya. Mudah menyerah, tidak punya ide karena terlalu khawatir dan sulit maju. 

...

Bulan Juni, apakah saya baik-baik saja? Saya harap demikian. Perjalanan masih panjang (29 hari). Saya butuh uang, tapi saya juga ingin kenyamanan (bloger). Semoga kami semua diberikan kemudahan untuk setiap apa yang dikerjakan. Dan tentu, dibukakan pintu rejeki seluas-luasnya. Amin

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini