Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tantangan Akun Asli Twitter

[Artikel 14#, kategori Twitter]  Minggu malam (12 Juni) kemarin, saya ngepost tweet tentang kerugian akun asli karena sudah dibranding dengan maksi (maksimal maksudnya). Kira-kira, kamu tahu kenapa saya nge-tweet begitu?

Semenjak akun berbasis base saya follow, tanpa sadar sering kali saya mencuri-curi klik atau ikut komentarin. Sesuatu yang tidak saya lakuin 5 tahun belakangan.

Keuntungannya, followers saya nambah. Sesuatu yang sudah sulit untuk dilakukan akhir-akhir ini. Apalagi eranya terus berganti.

Meski itu kabar baiknya, ada sisi nggak baiknya juga. Hasrat untuk terlibat lebih banyak seperti yang saya tulis di atas (klik atau berkomentar).

Tantangan

Citra atau branding yang sudah dibangun mau tidak mau ikut berdampak. Saya jarang mengambil bagian percakapan apabila tidak kenal atau mengikuti akun-akun yang nggak jelas.

Karena keharusan untuk saling follback, semacam peraturan tidak tertulis, saya harus melihat linimasa saya sekarang banyak bertebaran akun tanpa foto asli atau akun kedua.

Selain itu, jejak-jejak mereka terkadang sangat personal sekali. Mulai dari umpatan, sedih, bahagia hingga kata-kata yang biasanya tidak saya sukai, kini jadi pemandangan biasa.

Terkadang, saya waswas sendiri karena banyak rekan-rekan yang saya kenal baik secara pertemanan maupun profesi ada di linimasa saya.

Algoritma Twitter menambah derita ketika hanya mengklik suka, maka tweet utamanya ngikut ke linimasa pengguna lain. Saya di sini benar-benar jatuh dimata orang-orang.

Buat akun kedua?

Sementara saya tidak berencana, karena akun yang saya kelola juga sudah lumayan banyak. Saya harus siap dengan konsekuensi dari apa yang saya perbuat.

Saya memang sudah harus turun gunung atau maksudnya mengikuti perkembangan era media sosial. Di mana akun base sekarang cukup banyak juga yang melintas. Baik berbasis kota, Sekolah, kampus hingga tema-teman tertentu.

...

Branding? Sialan, baru sekarang kena dampaknya. Semoga orang-orang yang mengenal saya tetap melihatnya sebagai manusia yang terkadang tidak luput dari salah. Saya hanya mencoba sesuatu yang berbeda saja.

Mohon maafkan saya bila tidak lagi sesuai ekspetasi.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini