Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bercerai

[Artikel 21#, kategori keluarga] Rasanya kepulangan waktu itu adalah kesia-sian belaka. Tak ada hujan atau badai, kabar yang disembunyikan awalnya terdengar juga akhirnya. Pasti tidak mudah mengambil keputusan itu. Andai saya ada di sana.

Seseorang sudah mengambil langkah lebih awal dari mereka yang masih berjuang. Sayangnya, langkah tanpa kematengan adalah sikap terburu-buru yang berdampak buruk.

Bahkan, keputusan yang diambil tidak mengindahkan perasaan orang-orang yang berada disekitarnya. Seolah patung, tak mendengar atau pun melihat.

Perjodohan

Kata perjodohan sempat saya benci kala orang tua menyodorkan pilihan wanitanya kepada saya. Namun sekarang, rasanya saya menginginkannya. Bukan saya tak mampu, hanya saja ada rasa percaya diri yang hilang kala berpikir ke jenjang pernikahan.

Itu yang terjadi pada seseorang yang ingin saya banggakan. Kepulangan waktu itu hanya untuk demi memberi restu kepadanya yang mendadak mengabarkan akan segera menikah.

Tentu saya pulang karna ingin memberikan kebahagiaan yang lebih lengkap kepadanya. Saya sama sekali tidak mengerti mengapa mendadak akan serius bersatu dalam mahligai. Padahal saya tak pernah sekali pun mendengar kabar kapan mereka berpacaran.

Ya, itu yang saya khawatirkan. Niat baik orang tua yang seharusnya menjadi kebahagiaan, hanya memberi tekanan kepadanya. Dia belum siap tentang perjodohannya.

Bercerai

Ditinggalkan selama masih pacaran saja sudah menyedihkan, bagaimana ditinggalkan karena perceraian. Meski itu hanya sebentar dan ada banyak kepentingan, bercerai itu menyedihkan.

Saya tidak tahu mengapa itu bisa terjadi. Andai saya yang mengalami, saya akan berusaha berpikir 10 kali sebelum mengambil keputusan. Tidak, 1000 kali mungkin.

Saya merasa seperti pecundang tiap kali ditinggalkan oleh bayangan masa lalu saya, sebaik apapun usaha saya. Meski saya merasa menderita, pilihan mereka pergi meninggalkan saya juga adalah keputusan terbaik tentunya.

Mereka, barisan para mantan, sekarang pasti bahagia dengan pasanganya masing-masing. Tidak seperti saya yang hanya bisa berkhayal lewat tulisan dan mengenang kisah-kisah indah bersama mereka di masa lalu.

...

Jika waktu bisa diulang kembali, saya ingin bicara kepadanya bahwa keputusannya memang tanggung jawabnya. Namun akan ada banyak perasaan yang ikut sedih. Ceritakan kepada saya, apa masalahnya. Bukan mendadak langsung berkabar dengan bangga bahwa sudah berpisah.

Saya adalah laki-laki yang bukan saja gagal dalam menjalin hubungan tapi sebagai saudara dan keluarga. Di dalam komik, mungkin saya bisa disebut sampah. Karena tidak berguna.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini