Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pernikahan Si Bungsu

[Artikel 16#, kategori keluarga] Apakah ini sebuah tren sekarang? Yang paling bontot lebih cepat nikah ketimbang saudara-saudara tuanya. Mungkin maksudnya baik, hanya saja saya tak pernah terbayangkan akan dilangkahi dalam hidup ini.

Awal bulan Juni, saya terpaksa pulang. Berbagai alasan yang seharusnya membuat saya tidak pulang kali ini kalah dengan momen sakral adek bungsu. 

Keluarga utama saya bukanlah seperti keluarga yang dibayangkan di tv-tv. Keputusan menikah si bungsu pun tanpa banyak pendapat yang dilibatkan. Saya seperti pengunjung tempat ngopi, setelah pesan, saya hanya perlu menunggu di meja.

Memang dulu sempat membicarakan pernikahan juga. Tapi karena sebuah alasan waktu itu, tidak jadi. Dan sekarang tahu-tahu kembali dengan rencana semula, sebuah pernikahan.

Berbahagialah

Saya sering bilang pada orang-orang yang saya ajak bicara ketika ngomongin pernikahan. Ketika kamu tinggal bersama Ayah dan Ibumu, tekanan menikah lebih besar dan sangat tidak terbendung. 

Maka tidak heran, teman-teman seumuran saya sebagian besar sudah menikah. Memiliki buah hati yang dipamerkan di media sosial agar terlihat sangat bahagia.

Si bungsu yang tinggal bersama keluarga inti juga harus merasakan dampaknya tekanan menikah kala umur sudah tepat. Menunggu saudara-saudaranya tanpa kepastian, hanyalah membuang waktu saja.

Apalagi dengan renge'an Ibu yang ingin menimang cucu. Ditambah omongan yang terasa biasa buat orang tua, tapi terasa beban bagi anak-anak yang ingin berbakti. 

Ibumu ini sudah tua, umurnya tidak panjang. Ibu ingin melihat kalian menikah dan menimang cucu tercinta.

Berbahagialah adikku. Maafkan saudaramu ini yang seharusnya tekanan ini ada padaku, harus kamu yang memikul. Menikah adalah keputusan, dan bahagia adalah pilihan.

...

Saya sendiri pun tak munafik untuk memiliki keinginan menikah, setidaknya sekali seumur hidup. Namun entah kenapa semakin ke sini, seleksi wanita yang mau bertahan tidaklah banyak.

Semisal ada pun, itu masih ragu. Menghubungkan dua keluarga itu tidak mudah. Apalagi membangun keluarga sendiri tanpa persiapan yang matang.

Selamat berbahagia adikku, bertahanlah dalam setiap cobaan. Yang membuat pernikahan itu kekal adalah bagaimana menikmati prosesnya dengan tidak lari dari setiap masalah.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini