📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
[Artikel 95#, kategori Real Madrid] Pertandingan Matchday 2 Liga Champions antara AS Roma kontra Real Madrid Kamis lalu (15/10) sebenarnya jadi salah satu laga yang paling saya tunggu. Bukan cuma soal bentrok dua nama besar Eropa, tapi ada ikatan emosional tersendiri dari sosok Jose Mourinho yang kembali ke Stadio Olimpico untuk menghadapi mantan tim yang pernah dibawanya meraih trofi Eropa.
Namun, alur pertandingan justru berjalan di luar dugaan dan sempat bikin makan hati. AS Roma tampil luar biasa dan memberikan pelajaran berharga buat skuad asuhan The Special One. Saat papan skor menunjukkan angka 3-1 untuk keunggulan tuan rumah lewat dua gol Donyell Malen dan Marten de Roon, jujur saja saya sudah pasrah.
Perasaan frustrasi membuat saya memilih mengalihkan pandangan dari layar kaca dan fokus mengetik draf tulisan saja. Maklum, kekalahan di laga derbi dari Atletico Madrid sebelumnya masih menyisakan rasa trauma. Antusiasme dan ekspektasi nonton Madrid belakangan memang agak menyurut—saya sadar betul, jangan berharap terlalu tinggi pada proses transisi racikan Mou musim ini.
Tapi dasar Real Madrid, label King of Remontada ternyata bukan sekadar jargon tanpa makna.
Momen ajaib itu datang di delapan menit terakhir yang teramat krusial. Perjudian taktik Mourinho memasukkan darah segar seperti Endrick, Carlos Espí, dan Arda Güler mengubah segalanya.
Berawal dari gol Carlos Espí di menit ke-83 yang memanfaatkan bola muntah, semangat juang Los Blancos mendadak membara. Hanya berjarak dua menit, tandukan Endrick memanfaatkan umpan sepak pojok Arda Güler sukses menyamakan kedudukan menjadi 3-3.
Puncaknya terjadi di menit ke-90. Umpan set-piece terukur dari Arda Güler kembali disambut aksi akrobatik Antonio Rüdiger yang menjebol gawang Roma sekaligus mengunci kemenangan dramatis 4-3. Tiga gol balasan dalam tempo delapan menit!
Kemenangan ini jadi hasil sempurna kedua bagi Madrid di fase liga setelah sebelumnya menaklukkan Inter Milan 2-1 di Bernabeu. Meski permainan secara keseluruhan masih menyisakan banyak PR di lini pertahanan, malam itu Real Madrid sekali lagi membuktikan bahwa selama peluit panjang belum berbunyi, DNA remontada mereka tak pernah benar-benar padam.
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar