Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

☕ Coffeemix di Bulan Oktober 2026

[Artikel 7#, kategori kopi] Di tempat biasa, sudut ruang yang biasa digunakan sebagai tempat menaruh botol-botol kosong, awal bulan ini terselip tumpukan kopi sachet. Melihat merek dan warna kemasannya, pikiran saya langsung mengarah pada Indocafe Coffeemix. Dan benar saja.

Oktober kali ini punya ceritanya sendiri, terutama soal kopi. Padahal kalau mengingat kembali bulan Juli lalu, perjuangan menghemat kopi sebenarnya tak kalah memikat. Bahkan saat itu, ada sedikit solusi yang sempat saya tawarkan dari pengalaman yang ada.

Kini, tak disangka saya kembali beralih menyeduh Coffeemix—kopi sachet yang sudah sangat familiar dan sebenarnya pernah jadi andalan saya dulu.

5 sachet

Saya langsung menghampirinya, sekalian menyelesaikan tugas mengisi botol-botol yang ditaruh di sana, rutinitas kecil yang sudah saya jalani selama kurang lebih dua tahun terakhir ini.

Di sana hanya ada lima sachet. Sedikit? Tentu saja, apalagi jika dihubungkan dengan rutinitas minum kopi harian yang biasanya dijatah dua kali sehari. Lima sachet ini paling-paling hanya bertahan dua sampai tiga hari saja.

Di warung dekat rumah, satu bungkusnya dijual dua ribu rupiah. Jadi kalau dihitung secara nominal, lima sachet ini bernilai sepuluh ribu rupiah.

Bulan Oktober tahun lalu, di sudut yang sama, catatannya masih sedikit lebih berwarna. Selain kopi, masih ada beberapa bungkus mie instan yang ikut nampang sebagai jatah bulanan. Namun seiring berjalannya waktu, alokasi itu perlahan menyusut hingga akhirnya tersisa lima sachet kopi ini.

Padahal kalau melihat tumpukan belanjaan rumah, rasanya ada pemandangan yang cukup kontras. Tapi saya sangat paham, semenjak hadirnya anggota keluarga baru, kebutuhan rumah tangga tentu membengkak dan prioritas pun wajar jika bergeser. Hanya saja, melihat jatah yang makin lama makin mini, ada sedikit rasa canggung yang terselip.

Ini bukan soal tidak bersyukur atau menuntut lebih. Hanya saja, jika memberi terasa menjadi sebuah beban yang dipaksakan atau sekadar formalitas agar tidak enak hati, sebenarnya tidak diberi pun tidak apa-apa. Rasa "tahu diri" dan sungkan membuat protes terasa sama sekali tidak etis untuk diucapkan.

Bagaimanapun juga, terima kasih sudah tetap memikirkan dan menyisipkan jatah ini untuk saya. Selalu ada rasa syukur di balik setiap cangkir yang diseduh.

Artikel terkait:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berapa Jumlah Penggunaan Kuota Internet Bulananmu?