📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
[Artikel 8#, kategori Ronaldo] Kamis malam (5/11), seusai pulang bermain bola, linimasa media sosial mendadak riuh oleh kabar yang mengejutkan. Salah satu bintang terbesar yang sudah menjelma menjadi legenda memutuskan pensiun dari tim nasional. Keputusan ini sungguh di luar dugaan, mengingat friksinya bersama pelatih timnas sempat hangat diperbincangkan beberapa waktu ke belakang.
November sepertinya selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan babak akhir. Padahal bulan baru saja dimulai, tetapi lembaran sedih ini terlanjur tumpah dan membanjiri perasaan jutaan penggemar.
Cristiano Ronaldo mengumumkan pensiun lewat unggahan di media sosialnya. Sontak, seluruh lini masa dan portal berita serentak menyorotinya. Termasuk saya yang, meski baru saja tiba di rumah dalam keadaan lelah usai bermain bola, tanpa sadar terus scrolling dan membaca setiap keping cerita tentang keputusannya.
Perjalanan saya mengikutinya bermula sejak ia pertama kali menjejakkan kaki di Old Trafford, markas Manchester United. Aksi-aksi di lapangan yang selalu memukau membuat saya mantap mengikuti langkahnya saat ia pindah ke Real Madrid. Di titik-titik inilah kekaguman itu berubah menjadi kecintaan yang dalam.
Kepindahannya ke MU berarti ia mewarisi nomor punggung 7—nomor keramat peninggalan David Beckham, pemain lain yang juga sangat saya kagumi. Langkah kakinya kemudian berlanjut ke Real Madrid, memperdalam kesan bahwa pemain ini memang ditakdirkan untuk berdiri di atas panggung-panggung akbar. Perannya di bawah asuhan Jose Mourinho saat itu menjadi salah satu lembaran paling ikonik yang sulit untuk dilupakan.
Setelah ia pindah ke Juventus, jujur saja, intensitas saya mengikutinya mulai jarang. Namun, gelombang antusiasme itu sempat membuncah kembali ketika ia memutuskan pulang untuk periode kedua di Old Trafford. Kedatangannya bukan lagi sekadar mencari panggung, melainkan sebagai figur senior yang ingin menyelamatkan dan membantu klub. Sayang, akhir cerita kepulangan itu kembali harus berjalan tidak mulus.
Bicara soal panggung internasional, Portugal sebenarnya bukanlah tim yang saya favoritkan. Namun, keberadaan seorang Cristiano Ronaldo di sana membuat saya tanpa sadar terus mengikuti kiprah mereka.
Harus diakui, Portugal sebelum era Ronaldo barangkali tidak pernah bermimpi bisa berdiri sejajar sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola dunia. Ia datang membawa standar, membangun mentalitas juara, dan merajut karier internasional yang nyaris sempurna dengan mempersembahkan beberapa trofi bergengsi.
Hingga akhirnya, keputusan pensiun itu tiba di tengah situasi yang kurang ideal—diwarnai bayang-bayang konflik dengan pelatih timnas saat ini. Momentumnya memang terasa kurang sempurna. Portugal kini harus ketar-ketir, menyadari bahwa "aset negara" yang selama ini menjadi branding utama martabat sepak bola mereka telah benar-benar menanggalkan seragam kebesarannya.
Melihat postingan di media sosial tentang bagaimana ia pergi meninggalkan panggung, ada satu kesedihan mendalam yang menyeruak. Sebagai pemain besar dan legenda hidup, ia nyaris tidak pernah mendapatkan penghormatan perpisahan yang layak dan sepadan dengan hingar-bingar namanya.
Mengingat kembali lembaran masa lalu, pola itu begitu nyata:
Pergi dari Real Madrid tanpa perpisahan.
Pergi dari Juventus tanpa perpisahan.
Pergi dari MU tanpa perpisahan.
Dan kini, pergi dari Portugal tanpa perpisahan.
Ya, ini bukan kali pertamanya. Ia sepertinya sudah terbiasa pergi sendiri dalam sunyi, tanpa lambaian tangan perpisahan atau upacara megah di tengah lapangan.
Bagi para penggemar yang mengikutinya sekian dekade, kita sepertinya memang harus terbiasa dengan akhir cerita yang tidak pernah benar-benar sempurna. Sebuah perjalanan megah yang ditutup dengan jalan keluar yang sunyi.
Terima kasih untuk semuanya, CR7. Kamu tetap menjadi bagian dari sejarah sepak bola yang membersamai perjalanan masa-masa kita.
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar