📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
[Artikel 170#, kategori catatan] Tidak terasa, lembaran kalender kini sudah berganti lagi. Selamat datang, November 2026!
Jika ditarik garis ke belakang, bulan sebelumnya meninggalkan kesan yang berlapis-lapis. Dari gegap gempita dunia digital yang sempat merayakan Hari Blogger, hingga tarikan napas panjang tatkala menyadari roda kehidupan terus berputar dengan segala kejutannya.
Mari kita duduk sejenak, menuang seduhan di cangkir, dan merangkum apa saja yang singgah di kepala menyambut bulan kesebelas ini.
Beberapa waktu lalu, semarak Hari Blogger terasa jauh lebih hidup dan meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Platform seperti Threads memberi banyak ruang bagi para pegiat tulisan untuk bersuara, berbagi cerita, dan saling menyapa lintas kota. Rasanya senang melihat gairah menulis ini masih menyala di tengah gempuran format video pendek.
Namun, dunia memang punya cara sendiri untuk menyeimbangkan suka dan duka. Beberapa hari berselang dari keriuhan tersebut, kabar duka datang mendadak dari seorang rekan blogger perempuan di Semarang. Sosok hebat yang selama ini aktif, sering berkegiatan bersama, dan selalu membawa energi positif di setiap kesempatan.
Kenyataan pahit kembali menampar: orang-orang baik selalu dipanggil lebih cepat. Doa terbaik tentu terkirim untuk beliau, semoga diberikan tempat terindah di sisi-Nya, dan jejak kebaikannya di dunia literasi lokal tetap abadi.
Masuk ke penghujung tahun, urusan per-pinjol-an memang menunjukkan tren positif karena beban hutang yang terus berkurang. Angka-angkanya semakin mengecil, sebuah progres yang patut disyukuri.
Tapi hukum alam sepertinya berlaku unik bagi pekerja lepas: saat beban cicilan turun, pemasukan baru justru macet tidak ada kabar. Kepala jadi cenat-cenut mikirin arus kas yang mandek. Di titik inilah godaan klasik bapak-bapak usia kepala empat sering muncul: apakah kudu ngambil lagi alias gali lubang tutup lubang?
Sebuah pertanyaan klise yang jawabannya sebenarnya sudah tahu risikonya, tapi sering bikin iman goyah saat dompet benar-benar sedang tipis. Semoga saja tidak perlu sampai ke opsi itu.
Di luar urusan dompet, pemandangan sehari-hari di rumah tempat tinggal menyimpan cerita lain. Si bungsu—anak terakhir dari pemilik rumah—badannya terlihat semakin gemuk dan berisi dari hari ke hari.
Melihat beliau yang sudah berumah tangga dan dikaruniai dua orang putri, sebuah pertanyaan usil kerap melintas di kepala: Apakah ini yang dinamakan definisi pria bahagia yang sesungguhnya?
Di satu sisi, ada rasa iri tersendiri. Kapan ya bisa melihat tubuhku sendiri ikut gemuk juga? Padahal, mitos umumnya setelah menikah, kebanyakan bapak-bapak otomatis berubah jadi buncit. Mungkin metabolisme tubuhku memang jenis yang "paling tabah" melawan takdir kebuncitan haha..
Satu hal yang pasti, Semarang kini resmi memasuki musim penghujan di bulan November ini. Setiap sore atau malam hari, langit mendung kerap tumpah tanpa aba-aba.
Bagi pencinta bola sepertiku yang kerap turun merumput, musim hujan punya arti tersendiri. Itu artinya, jadwal main bola bakal terasa jauh lebih berat dari biasanya. Lapangan becek, aliran bola yang tidak akurat, dan fisik yang harus bekerja ekstra keras menjaga mistar gawang agar tidak kebobolan terlalu banyak. Tantangan fisik bertambah, tapi hobi tetap harus jalan.
Bagaimanapun lika-likunya, hidup harus terus berjalan. Harapannya sederhana saja di bulan November ini: semoga ada rezeki yang mengalir lancar, dompet kembali sehat, dan kesehatan senantiasa terjaga untuk melewati sisa tahun dengan kepala tegak.
Selamat datang, November. Mari kita jalani pelan-pelan dengan sisa tenaga dan secangkir kopi hangat
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar