Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dikala Sepi Menyerbu



Sapi menyerbu! Bukan-bukan, maksudnya sepi. Hening, sendirian tanpa ada suara banyak orang. Hari ini saya masih memelihara kebiasaan buruk jika didalam kamar mandi. Baca buku atau cek email dan twitter via Hape. Keheningan kadang membuat saya lebih fokus untuk membaca. Kebetulan, buku yang saya baca ingin saya targetkan secepatnya selesai. Maklum, buku baru dan masih banyak lembaran baru.


Saat menulis ini, saya masih ada dikantor. Ditemani suara musik portable. Radio kesukaan saya pindah channel. 97.7 itulah channel yang gak ada matinya, selalu memutar lagu asyik, galau alias komplit plus lagu barat, ngehek nih lagu. Saya cuma bisa geleng tapi gak bisa melek, sulit dimengerti boy!

Duduk dimeja dengan kursi yang ada penyangga gabusnya, seperti seorang bos saja. Itulah saya, kan kantor sendiri. Kantor yang bagi saya itu luar biasa namun jelek kalo dilihat tempatnya. Maklum, cuma 550 ribu biaya sewanya :D

Sendiri sepertinya lagi menyertai saya hari ini. Entah, lagi hobi atau mikirin pacar yang jalan ke Jogja tanpa beban. Perangkat kantor alias orang-orang yang biasa bersama saya, entah pada kemana. Kalo ismi dari pagi sih ada, sekarang lagi kuliah. *semoga motornya nggak apa, kasian kalo mogok lagi

Jadi blogger itu seperti ini nasibnya. Ngeliat status teman yang ngurus skripsi kok galau mulu, apakah saya seperti dia. Kok jadi galau. Padahal nggak mikirin orang lain, kecuali diri sendiri. Ah, sudahlah. Doakan saja semoga teman saya itu cepat lulus. Biar statusnya berubah menjadi cerah.

Hidup itu pilihan,

Ember cin! hahaha... seolah nggak ada lagi kehidupan didunia ini. Yang saya tahu, kalo situ kuat pasti bisa bertahan. Kalo nggak kuat berarti situ memang harus memilih. Hihi.. enak aja yah kalo bisa memilih. Nggak mau ribet.

Oh ya, saya lagi pengen punya LCD Proyektor. Kapan yah bisa terwujud. Harganya kisaran 3 jutaan. Sebulan sekali, saya harus nyetor untuk bayar uang kantor. Itupun harus nyari-nyari receh kalau gak cukup. 


gebayangin punya proyektor, kaya ditodong polisi saja.

Udahlah, hari ini cukup sekian cerita saya di kantor kecil ini. Satu kesimpulan bagi pembaca adalah berani bermimpi adalah hak mutlak yang harus dimiliki banyak orang. Mudahan mimpi saya punya LCD terkabulkan, aminn :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini