Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tidur di Kantor di Malam Idul Adha



Hari ini sebenarnya adalah moment bahagia bagi umat muslim. Tapi, malam harinya, langit kota Semarang sebelum turun hujan, aktivitas warga tak banyak berubah. Simpang lima masih rame seperti biasa. Yang beda hanya penjagaan lebih ketat dan banyak oleh polisi. Bersyukur, saya masih tersenyum di hari spesial ini.


Seperti biasa, terbangun dini hari adalah aktivitas kebiasaan saya beberapa bulan ini. Kipas angin tepat didepan saya, dan suara portable radio masih menemani saya hingga terbangun. Hmm.. menggerakkan tubuh, kekanan dan kekiri, kok sakit rasanya.

Yah, malam takbiran saya beristirahat dikantor. Menghabiskan malam sambil ditemani hujan yang sangat deras. Sepertinya langit memberikan berkahnya kepada Semarang. Tidur dikantor seakan membuat saya damai meski panas.

Kerasnya hidup di kota orang, memang membentuk kultur baru bagi kehidupan saya. Namun, bukan alasan itu saya malam ini tidur dikantor. Udah beberapa hari keluarga datang kerumah. Yah, biasa momentnya pas banget.

Ibarat air yang mengalir dari pegununangan, kehidupan saya yang biasa sendiri, kedatangan keluarga yang berbondong-bondong, seolah memberi aliran air baru bagi saya. Kamar jadi penuh sesak. Maklum dua kamar doang.

Keteraturan hidup saya setelah pulang dari kantor adalah beristirahat total. Tapi, yah mau dikata semua sedikit berubah. Jangankan mau tidur, mejam sedikit saja seakan mendengar suara nyamuk ditelinga.

Yah, udahlah mencari jalan terbaik demi kualitas terbaik meski harus jadi paling baik. Inilah cerita saya dimalam takbiran. Selama hari raya idul adha kawan. selalu tetap bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini