Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Fisik yang Menipu


[Artikel 9#, kategori pria 31 tahun] Beberapa bulan menjelang pergantian umur, saya sepertinya merasa malu-malu ketika berjumpa dengan banyak orang yang baru bertemu tidak menyangka saya sudah berumur 30 tahun ke atas. 

Saya yakin, kamu pun begitu saat pertama bertemu saya. Ini bukan satu atau tiga kali, berkali-kali. saya harus memaklumi semua pemikiran mereka dan mengakui bahwa fisik saya memang menipu.

Seharusnya itu adalah sebuah pujian dan didambakan banyak orang yang mengagungkan hidup abadi alias ingin dilihat awet muda. Saya sempat berpikir ke sana. Hanya saya untuk menyetujuinya, saya ragu dan khawatir.

Saat bermain futsal jumat kemarin (9/2), fisik saya kembali drop dan tak menyelesaikan permainan yang lama saya nanti akibat cedera. Seminggu libur tak menyangka bahwa stamina saya kedodoran.
Pemain senior yang awalnya bermain dengan saya dan sudah selesai, berganti tim, bertanya tentang umur saya yang terlihat muda namun merasa janggal dengan stamina saya yang begitu mudah hilang. Apalagi baru main kurang dari 15 menit. 

Saat saya menyebut ini tahun saya masuk kepala 32 tahun, senior tersebut terkejut dan akhirnya mengerti memaklumi apa yang terjadi pada saya.

Saya pun malu-malu mengakui bila melihat para pemain yang saya belum banyak kenal ini umurnya di atas saya semua. Hebatnya stamina mereka sangat terjaga, tak habis seperti saya.

Tubuh kecil saya memang akhirnya yang membuat penilaian sendiri tentang bagaimana fisik saya terlihat muda. Apakah face saya juga terlihat demikain, entahlah.

Mungkin, saya harus banyak bersyukur dengan kekurangan yang saya miliki ini menjadi kelebihan yang tak terkira nilainya. Mari berpikir positif dan doakan saya sehat selalu. Aminn.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini