Menikahi Wanita Berarti Menikah Dengan Semua yang Menyayanginya


[Artikel 10#, kategori pria 31 tahun] Saya seperti terdampar di sebuah tempat yang tidak ada jaringan Internet. Saya seperti hidup tak segan, mati pun enggan. Padahal kehilangan beberapa hari tidak menulis bukan karena itu penyebabnya. Ketakutan tentang kehilangan motivasi menulis blog rasanya mulai terasa gejalanya.

Lama nggak update blog, saya malah membawa tulisan yang agak berat bagi nalar yang merasa benar. Saya banyak bertemu orang-orang ini yang entah sejak kapan yang awalnya saya hormati berubah tidak hormat karena mengurusi hidup orang lain. Mereka seolah paling benar karena sudah melakukan.

Saat tulisan ini tuangkan, saya sedang bersepeda membeli makanan kucing. Jembatan yang saya lewati penuh warna-warni yang seolah mengatakan begitulah hidup yang harus manusia jalani.

Tiap berpapasan dengan pengendara sepeda motor khususnya wanita yang terlihat menarik saya selalu tertarik dan rasanya, ingin segera menikahinya. Konyol dan bodoh. Pemikiran itu akhirnya dipendam ke dalam lubang terdalam.

Menyebut kata menikah sekarang ini sepertinya sebuah tantangan. Bukan karena saya tidak move on dari masa muda di bawah usia 25 tahun yang masih ingin bersenang-senang. Bukan juga karena saya menggantikan kata jomblo menjadi hidup abadi.

Banyak hal yang saya pikirkan ketika menyebut ini. Sepertinya bukan menyebut, tapi berusaha menyingkirkan. 

Namun entah kenapa, judul ini tiba-tiba terselip begitu saja saat saya tadi bersepeda. Seolah menikah itu mudah dan berpegang teguh pada kata-kata orang-orang yang sudah melakukan, semangat.

Menikah dengan wanita berarti menikah dengan semuanya yang dimiliki si wanita. Pemikiran jauh saya seolah melampui mata penjaga gawang yang tidak menyangka gawangnya kebobolan saat adu pinalti. 

Benar-benar tidak bisa diprediksi dan penuh kejutan. Begitulah buah pemikiran jauh saya saat ini yang menggiring saya pada sesuatu yang tidak pasti.

Menikah tentu mudah dilakukan dengan syarat ada pasangan dan mampu dari segala hal sebagai calon menantu. Saya, tidak demikian. 

Seolah saya seperti pecundang yang tak berani bertindak, saya sedikit mengakui sebenarnya. Mencintai wanita itu memang tidak mudah, menikah yang mudah.

Namun menikah, kita harus juga menikahi keluarganya yang dalam arti bahwa memberikan segalanya kepada mereka berupa rasa hormat, kasih sayang, berkorban dan tentu mendengarkan mereka untuk sesuatu yang dianggap penting.

Saya tidak sekuat itu ternyata. 
Hidup saya yang begitu membanggakan bagi diri saya sendiri tidak dapat membuat orang lain bahagia.

Pemikiran saya terus terperosok dan sesekali berharap masa lalu datang menghampiri. Mungkin saja saya berjodoh dengan masa lalu.

...

Tulisan saya mulai konyol. Ini karena sebagian tulisan dibagian akhir saya selesaikan di rumah. Saya menyukai bersepeda meski ke tempat-tempat sederhana. Di sanalah pemikiran saya bisa keluar meski kadang membuat susah dengan berhenti satu titik ke titik lain hanya untuk memindahkan isi kepala ke catatan yang ada di Smartphone.

Kesimpulannya begini bahwa usia seperti saya saat ini, menikah bukan sekedar memberi kasih sayang kepada sang pujaan.

Saya memikirkan bagaimana keluarganya yang begitu bangga terhadap putri kesayangannya harus jatuh kepada pria yang kurang baik. Menikah tak bisa hanya mengandalkan cinta dan kasih sayang saja.

Menikahi keluarganya seperti sebuah cerita film kolosal dimana sang mempelai wanita menjadi permaisuri, dan keluarganya duduk menjadi menteri hingga pejabat tinggi.

Saya harap ini tidak terjadi dengan saya suatu hari nanti. Penutup dengan sebuah lagu dari Sheila On 7 dengan judul Ketidakwarasan Padaku.



Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Flower, Drama Korea Tentang Kehebatan Jang Hyuk yang Selalu Dapat Menyelesaikan Masalah