Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Milenial yang Jadi Rebutan Dipusaran Politk
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
[Artikel 18#, kategori generasi] Sejak tahun 2015, saya sudah membicarakan tentang generasi milenial di blog pribadi saya ini. Sekarang tak terasa, generasi ini begitu populer dan diminati untuk sebuah kepentingan politik.
Pemilihan Presiden tahun 2019 adalah pelecutnya. Membicarakan politik memang mau tak mau akhirnya bersingguhan juga. Meski begitu, saya tak pandai dalam membahas generasi milenial untuk membawa hubungan keduanya kedepan nanti.
Maksudnya itu saya nggak ahli tentang milenial. Meski begitu, saya terus belajar dengan membawanya ke dalam blog ini yang diolah dengan beberapa sudut pandang saya.
Milenial yang begitu terbuka
Mengutip dari situs tirto.id (13/8/2018), di era Reformasi ini menurut penilitian dari Ella S. Prihatini, kandidat doktor University of Western Australia, pada akhir 2017 tentang perilaku milenial Indonesia yang tengah memasuki tahun politik, hasilnya.
Kebanyakan generasi Milenial yang kesadarannya tumbuh di era Reformasi ini sangat terbuka terhadap nilai-nilai kesetaraan gender, independen secara politik, serta berani mengambil pilihan ideologi politik yang berbeda dari lingkungan keluarga mereka.
Survei Alvara Research 2016 mematok rentang usia lebih luas bagi generasi Milenial, yakni antara 15 sampai 34 tahun.
Pada Pemilu 2019, suara generasi Milenial diperkirakan cukup tinggi. Survei Saiful Mujani Research & Consulting pada Desember 2017 menyatakan Milenial (17-34 tahun) membentuk persentase 34,4 persen dari total populasi masyarakat Indonesia.
Sementara rilis survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada November 2017 menunjukkan konsumsi media sosial generasi Milenial Indonesia (17-29 tahun) memengaruhi preferensi politik terhadap sosok presiden.
Totalnya 40%
Saya tertarik dengan video yang tayang di Youtube dengan judul Penunjukan Erick Thohir Sebagai Antisipasi Sandiaga Uno di bawah ini.
Dalam video berdurasi 20 menit lebih ini banyak membahas tentang milenial. Memang ada debat di dalamnya yang mungkin ada yang nggak suka, tapi fokuslah pada pembahasan milenial di sana.
Rata-rata jumlah generasi milenial dari total keseluruhan penduduk Indonesia di atas 50 juta. Seperti mengutip dari katadata.co.id (29/8), Catatan Polmark setidaknya ada 82 juta generasi millenial di Indonesia. Jumlah tersebut mencapai 31,28% dari total penduduk sebanyak 262 juta jiwa.
..
Saya sendiri termasuk dalam generasi yang disebut milenial. Ini menarik sekali saat pemilu nanti digelar. Siapa yang berhasil menarik generasi milenial Indonesia dan apakah faktanya nanti juga bersamaan memimpin Indonesia.
Milenial menjadi rebutan dipusaran politik. Bahasan yang sebenarnya tentang milenial yang dulu hanya bicara dunia pemasaran, kini masuk juga dalam ranah politik. Mari ditunggu kelanjutannya.
[Artikel 17#, kategori Tips] Saya sudah menghitung kira-kira berapa kuota yang dihabiskan untuk menonton siaran langsung sepakbola via streaming. Tentu Anda sekarang bisa mengukur biaya untuk menghabiskan kuota apabila tim kesayangan Anda akan bertanding hari ini.
Mungkin saja saya akan terhanyut tanpa kata-kata bila tidak membaca koran beberapa hari kemarin. Mengenal istilah Cinephile saat ini sepertinya membuat saya begitu bodoh dan entah dari mana aja selama ini. Padahal ini bukan baru buat saya. Terlambat sedikit tidak masalah, bukan? Ada yang baru tahu seperti saya ini???
Begini rasanya ketika mertua datang ke rumah, nggak enakan. Padahal, cuma menjenguk cucu kesayangan. Tapi rasa malas yang biasa dirasakan sebelum nikah, berubah rasa risih. Serba salah, pokoknya.
[ Ini adalah artikel ke-10 kategori Cinta ] Saya menaruh postingan ini dari pengalaman saya sendiri, jadi tidak semua pria memiliki sifat sama seperti saya. Beberapa hal mengenai wanita yang dapat membuatnya sedih maupun tersenyum, terkadang pria menyukainya. Tapi kadang pula, pria dianggap baperan. Wajar saja sih.
[ Artikel 21#, kategori drama Korea ] Rasanya baru ini saya menulis film Drama Korea yang baru tayang, mengingat biasanya menulis setelah film selesai. Faktor pemain sepertinya menjadi penyebab saya sangat bersemangat menulis lebih awal. Money Flower membawa Jang Hyuk sebagai pemeran utama. Aktor pria yang paling saya kagumi untuk akting pria tanpa emosi. Dan ketebak, seperti apa film ini bercerita. Money Flower rilis bulan November 2017. Para pemerannya, seperti salah satunya saya sebut di atas, tidak sembarangan. Jang Hyuk berperan sebagai Kang Pil Joo. Untuk pengisi peran wanita, dimasukkan aktris cantik Park Se Young. Meski bukan aktris favorit, dia sudah sangat familiar di mata saya. Jangan berharap komedi dan romantis di awal Drama Korea yang berdurasi 60 menit lebih ini benar-benar rekomendasi dan saya sukai. Peran aktor prianya yang sangat dingin menjadi hal penting dari setiap cerita yang dibangun. Maka bila kamu mencari cerita film ini penuh dengan tawa dan r...
Komentar
Posting Komentar