Generasi Z yang Lebih Mandiri


[Artikel #15, kategori generasi] Tanggal 10 Mei 2018, saya memutuskan membawa buku yang membuat saya tertarik ke meja kasir di mal yang berada di kawasan Simpang Lima. Buku tentang Generasi Z karya David Stillman dan Jonah Stillman. Saya sangat tertarik dengan generasi ini akhir-akhir ini ketimbang generasi saya, milenial.

Jujur, saya sudah rada malas membaca buku. Meski begitu, saya tetap memaksakan diri agar ilmu yang saya cari bisa menambah referensi saya ke depan. Bila menarik, saya tidak ragu membagikan ke blog seperti yang kamu baca ini.

Perjalanan membaca buku saya masih jauh, bahkan jalan di tempat. Entah kenapa saya tidak melanjutkan, selalu gagal ketika Smartphone tersentuh tangan saya. Mungkin kamu juga mengalaminya.

Generasi Z yang lebih mandiri

Saya pernah menjadi orang yang suka berbicara kolaborasi dan menjadikannya sebagai tujuan dalam membuat acara. Termasuk dalam dunia bloging yang saya tekuni hingga sekarang.

Seiring waktu, saya tidak lagi menekan betapa pentingnya kolaborasi dalam kehidupan yang saya jalani. Maka saat melihat seseorang mulai berbicara kolaborasi sekarang ini, saya anggap orang tersebut baru mencobanya.

Saat ini generasi z menjadi patokan yang coba saya yakini. Keberadaan mereka yang lahir dari tahun 1995-2012 mampu mengubah keyakinan saya dalam mengembangkan dotsemarang saat ini.

Dalam buku yang masih saya baca hingga sekarang, generasi ini paling terdepan dan berusia 20 tahunan. Jumlahnya mencapai 72,8 juta dan mereka hadir dilingkungan seperti kantor (perusahaan). Pemimpin diharapakan tidak mengabaikan keberadaan mereka.

Saat ini, kita benar-benar kedatangan generasi baru yang dinamakan Z. Tidak ada yang mampu mencegah kedatangan mereka saat ini. Mereka sangat berbeda dengan generasi milenial yang menyukai kolaborasi.

David Stillman mengatakan dalam bukunya, 'saya melihat kesenjangan menakutkan yang mengintai di cakrawala karena sifat mandiri mereka yang mungkin akan berbenturan dengan sifat generasi Millenial yang kolaboratif'.

Bahasan itu saja sudah membuat saya selalu berhenti membaca. Ini peringatan, pikir saya. Ini tidak baik, dan bla-bla...pemikiran saya terus berbicara dalam tubuh saya.

Tapi tunggu dulu. Dalam sisi bisnis maupun dalam dunia yang saya geluti, ini menarik. Saya harus mencobanya, melihat sebagai peluang dan menunggu itu berfungsi dengan baik.

Dunia saya tak jauh dari yang namanya konten. Maka saat ini yang saya pikirkan adalah bagaimana menaruh konten yang menarik untuk memancing mereka keluar dari sarangnya.

Meski terdengar mudah, tetap saja masalahnya tetap ada. Konsisten dari pertama dotsemarang dibuat rupanya alasan awal untuk sulit meninggalkan kebiasaan lama. Bagaimana konten untuk mereka pun saya masih belum tahu jelas. Ah saya lebih baik berpikir sambil bersepeda saja kalau begini.

Setiap bersepeda, pikiran saya selalu lebih terbuka. Ide datang tak tertahankan layaknya air yang meluap. Cara menampunya biasanya saya berhenti sejenak, lalu memasukkannya ke dalam aplikasi catatan di Smartphone saya.

..

Apa yang bisa kamu dapatkan dari tulisan saya ini tentang generasi Z? Tidak banyak sebenarnya malah. Silahkan garis bawahi, bahwa generasi Z lebih mandiri. Mereka dari bangku Sekolah sudah dapat mencetak uang dengan sendiri karena terhubung dengan Internet.

Mereka sudah berpikir kritis dan berusaha menyelesaikan tiap masalah yang dihadapi. Saat memasuki dunia kerja, mereka maunya hal-hal yang menantang dan menyenangkan namun memiliki kebebasan tersendiri.

Semoga bermanfaat.

*Saya bukan pakar berbicara tentang mereka, saya cuma berbagi dari apa yang saya baca.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deserving of the Name, Drama Korea Tentang Dokter Modern dan Dokter Oriental (Akupuntur)