Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Virus Opor Ayam di Hari Lebaran


Bukan tentang penyakit, tapi keinginan untuk makan Opor Ayam pas lebaran. Sudah 4 kali lebaran nggak kesampaian, termasuk lebaran tahun ini. Virus ini semakin menjadi-jadi kala media sosial dimanfaatkan sebagai ajang pamer makanan. Sungguh terlalu.

Sebenarnya untuk makan opor ayam bisa kapan saja, hanya saja momen lebaran itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Maklum, tiap lebaran saya sendiri di rumah Semarang.

Saya pernah berharap akan mendapatkan sajian opor ayam dari seseorang yang rencananya mau membawakan ke rumah. Sayang, itu tidak jadi.

Tahun ini memutuskan lebaran di Semarang keadaannya masih sama. Jangan berharap ada makanan enak, punya nasi aja untuk di makan saja udah membuat saya bahagia.

Saya tahu, di luar sana masih banyak yang kurang dari kehidupan saya. Saya sangat bersyukur. Tapi tetap saja, timeline yang membakar dengan berbagai hidangan, membuat saya iri.

Iri terhadap mereka yang dapat pamer makanan dan mengatakan kebanyakan makanan itu gak enak. Iri dengan foto makanan yang menganggap media sosial merupakan ajang pamer.

Saya di sini, menelan ludah dan berharap 50 ribu sisa terakhir yang ada di dompet bisa disimpan. Meski pada akhirnya, 50 ribu melayang hanya untuk beli makanan kucing.

Semoga tahun depan, saya bisa makan opor ayam.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini