Virus Opor Ayam di Hari Lebaran


Bukan tentang penyakit, tapi keinginan untuk makan Opor Ayam pas lebaran. Sudah 4 kali lebaran nggak kesampaian, termasuk lebaran tahun ini. Virus ini semakin menjadi-jadi kala media sosial dimanfaatkan sebagai ajang pamer makanan. Sungguh terlalu.

Sebenarnya untuk makan opor ayam bisa kapan saja, hanya saja momen lebaran itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Maklum, tiap lebaran saya sendiri di rumah Semarang.

Saya pernah berharap akan mendapatkan sajian opor ayam dari seseorang yang rencananya mau membawakan ke rumah. Sayang, itu tidak jadi.

Tahun ini memutuskan lebaran di Semarang keadaannya masih sama. Jangan berharap ada makanan enak, punya nasi aja untuk di makan saja udah membuat saya bahagia.

Saya tahu, di luar sana masih banyak yang kurang dari kehidupan saya. Saya sangat bersyukur. Tapi tetap saja, timeline yang membakar dengan berbagai hidangan, membuat saya iri.

Iri terhadap mereka yang dapat pamer makanan dan mengatakan kebanyakan makanan itu gak enak. Iri dengan foto makanan yang menganggap media sosial merupakan ajang pamer.

Saya di sini, menelan ludah dan berharap 50 ribu sisa terakhir yang ada di dompet bisa disimpan. Meski pada akhirnya, 50 ribu melayang hanya untuk beli makanan kucing.

Semoga tahun depan, saya bisa makan opor ayam.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deserving of the Name, Drama Korea Tentang Dokter Modern dan Dokter Oriental (Akupuntur)