Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Generasi Milenial Hidup di Era Pengetahuan
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
[Artikel 13#, kategori Generasi] Kamu yang sekarang berumur 15 - 35 tahun atau disebut Generasi Milenial, termasuk saya di dalamnya, saat ini kita hidup dan dibesarkan di Era Pengetahuan. Era dimana kamu dan saya sangat mudah mengakses informasi dan mendapatkan pengetahuan. Ketahui untung rugi era pengetahuan berikut ini.
Sebelum melanjutkan membaca postingan ini, ketahui dulu bahwa postingan ini saya buat dari referensi buku yang saya beli awal tahun dengan judulnya 'Smart Millenials'. Saya berharap kamu mengerti dulu soal ini.
Knowledge Era
Peradaban manusia telah melewati berbagai zaman, mulai dari Era Pemburu dan Pengumpul, Era Pertanian, Era Industri, Era Teknologi Informasi dan terbaru merupakan Era Pengetahuan hingga sekarang.
Di era ini, aset utamanya adalah ide dan kreativitas, riset dan inovasi, dan tentu para pekerjanya (knowledge worker).
Era Pengetahuan atau Knowledge Era membuat kita sangat mudah mengakses informasi hanya sekali klik. Memang era ini paling nyaman hidupnya adalah Generasi Milenial, tapi generasi lainnya pun turut ambil bagian.
Untuk mencapai sukses di era ini, tidak hanya menguasai di bidang teknologi dan informasi, tetapi juga meliputi kemampuan mengubah informasi menjadi pengetahuan.
Kemudian, kemampuan untuk menggunakan informasi menjadi keuntungan kompetitif, dan kemampuan membuat pengetahuan menjadi aset unggulan.
Tantangan di Era Pengetahuan
Adalah bagaimana menggunakan pengetahuan sebagai keuntungan kompetitip dan menjadikannya aset unggulan. Seolah gampang dikatakan, tapi nyatanya tidak mudah. Itu yang saya rasakan.
Kita saat ini bukan lagi mencari lebih banyak informasi, melainkan bagaimana mengolah informasi yang didapatkan menjadi pengetahuan.
Tantangan kita bukan lagi mencari apa yang membuat kita tahu, tetapi mencari apa yang bisa membuat kita melakukan sesuatu.
Pengetahuan memberi kita kemampuan untuk melakukan perubahan. Dengan menguasai pengetahuan, kita tidak akan takut pada perubahan dan malah kita sangat menantikan perubahan.
Menjadi Pekerja pengetahuan sebaik mungkin
Era ini seperti diberikan kepada Generasi Milenial. 20 tahun ke depan, generasi ini akan terus menguasai dunia kerja. Dengan catatan, kamu harus melakukannya sebaik mungkin.
Dalam sebuah buku yang terbit tahun 1993, Post-Capitalist Society, Peter Drucker mengindentifikasi bahwa ekonomi dunia sedang memasuki era baru yang berbasis pengetahuan.
Drucker menyatakan bahwa terjadi perubahan sistem masyarakat Barat. Sistem kapitalis yang merajai Era Industri sampai Era Teknologi Informasi digantikan oleh sistem post-kapitalis yang menjadikan pengetahuan sebagai kapital (modal) utama.
Pengetahuan adalah aset utama
Saya sudah menyebutkan di atas sebelumnya, tapi saya ingin kembali mengatakan ini untuk mengingatkan bahwa Era ini, pengetahuan adalah aset utama jika kita ingin mendapatkan hasil yang signifikan.
Setiap orang harus menggunakan pengetahuan sebagai sumber daya utamanya, apa pun profesinya yang dia tekuni. Pemburu atau petani yang hidup di Era Pengetahuan harus memiliki Paradigma yang berbeda dengan pemburu pada Era Pemburu atau petani pada era Pertanian.
Pahami ini, meski kamu dapat banyak informasi, kamu belum tentu disebut memiliki pengetahuan
Era sekarang memang sangat mudah mendapatkan informasi. Kamu tinggal cari dengan sekali klik atau scroll di media sosial.
Namun dengan informasi yang banyak kamu dapatkan belum tentu kamu disebut berpengetahuan. Contohnya sebagai berikut.
Kamu ingin memasak sesuatu yang memang belum pernah kamu lakukan. Kamu tinggal cari resep dan cara memasaknya di Internet. Kamu sudah mendapatkan informasinya.
Saat sudah mendapatkan dan kamu tidak mencobanya hingga masakan jadi, kamu belum disebut berpengatahuan. Sebatas tahu saja.
Ini berbeda dengan setelah kamu mempraktekkan informasi yang kamu dapat dan memberikan hasil berupa masakan. Soal enak nggak enak, belakangan. Nah ini, baru kamu bisa disebut berpengatahuan.
Informasi saja tidak menghasilkan apa-apa. Pengetahuanlah yang memberi kita kemampuan (skill) yang juga mencakup informasi.
Ingat bahwa Humberto Maturana pernah mengatakan bahwa knowledge is a validated platform to act - pengetahuan adalah landasan yang sudah divalidasi untuk melakukan tindakan.
Pengetahuan adalah PENGALAMAN, pengalaman melahirkan PENGETAHUAN. Informasi akan menjadi pengetahuan jika sudah dipraktikkan.
Saya berharap bisa mendapatkan pengalaman dengan banyaknya informasi melalui pekerjaan saya saat ini sebagai bloger. Karena seorang bloger bercerita tentang pengalaman dan sudut pandangnya yang sangat berbeda dengan kebanyakan secara umum.
Bagaimana dengan kamu, apakah masih sebatas pengguna dan penikmat informasi saja?
Mungkin saja saya akan terhanyut tanpa kata-kata bila tidak membaca koran beberapa hari kemarin. Mengenal istilah Cinephile saat ini sepertinya membuat saya begitu bodoh dan entah dari mana aja selama ini. Padahal ini bukan baru buat saya. Terlambat sedikit tidak masalah, bukan? Ada yang baru tahu seperti saya ini???
Begini rasanya ketika mertua datang ke rumah, nggak enakan. Padahal, cuma menjenguk cucu kesayangan. Tapi rasa malas yang biasa dirasakan sebelum nikah, berubah rasa risih. Serba salah, pokoknya.
[Artikel 17#, kategori Tips] Saya sudah menghitung kira-kira berapa kuota yang dihabiskan untuk menonton siaran langsung sepakbola via streaming. Tentu Anda sekarang bisa mengukur biaya untuk menghabiskan kuota apabila tim kesayangan Anda akan bertanding hari ini.
Istilah pacaran jarak jauh atau LDR sudah banyak kita dengar dan lazim. Saya pun pernah mengalaminya dan akhirnya kandas semua. Tapi kalau pasangan suami istri LDR?
[ Artikel 159#, kategori catatan ] Selamat Tahun Baru 2026. Mengawali lembaran kalender kali ini, saya justru merasa sedang "dipaksa" bertarung dengan realita. Ada pergeseran makna yang cukup kontras dalam keseharian saya. Jika dulu bekerja adalah upaya mencari penghasilan, kini bekerja rasanya lebih tepat disebut sebagai upaya membayar cicilan. Siklusnya seolah tak putus; lunas satu pinjaman, muncul tagihan lainnya yang memaksa saya kembali mengambil pinjaman baru. Sebuah dinamika hidup yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya, namun kini menjadi kawan setia dalam perjalanan. Tahun Baru yang Sunyi dan Menenangkan Ada perbedaan mencolok pada transisi tahun ini dibanding tahun lalu. Jika di penghujung 2024 saya masih aktif berlari di lapangan mini soccer , akhir tahun 2025 kemarin saya justru lebih memilih kenyamanan di dalam rumah. Tim sepak bola hari Kamis sudah memutuskan libur jauh-jauh hari, sehingga praktis aktivitas fisik terakhir saya berhenti di Senin malam. Menari...
Komentar
Posting Komentar