Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Generasi Milenial Hidup di Era Pengetahuan
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
[Artikel 13#, kategori Generasi] Kamu yang sekarang berumur 15 - 35 tahun atau disebut Generasi Milenial, termasuk saya di dalamnya, saat ini kita hidup dan dibesarkan di Era Pengetahuan. Era dimana kamu dan saya sangat mudah mengakses informasi dan mendapatkan pengetahuan. Ketahui untung rugi era pengetahuan berikut ini.
Sebelum melanjutkan membaca postingan ini, ketahui dulu bahwa postingan ini saya buat dari referensi buku yang saya beli awal tahun dengan judulnya 'Smart Millenials'. Saya berharap kamu mengerti dulu soal ini.
Knowledge Era
Peradaban manusia telah melewati berbagai zaman, mulai dari Era Pemburu dan Pengumpul, Era Pertanian, Era Industri, Era Teknologi Informasi dan terbaru merupakan Era Pengetahuan hingga sekarang.
Di era ini, aset utamanya adalah ide dan kreativitas, riset dan inovasi, dan tentu para pekerjanya (knowledge worker).
Era Pengetahuan atau Knowledge Era membuat kita sangat mudah mengakses informasi hanya sekali klik. Memang era ini paling nyaman hidupnya adalah Generasi Milenial, tapi generasi lainnya pun turut ambil bagian.
Untuk mencapai sukses di era ini, tidak hanya menguasai di bidang teknologi dan informasi, tetapi juga meliputi kemampuan mengubah informasi menjadi pengetahuan.
Kemudian, kemampuan untuk menggunakan informasi menjadi keuntungan kompetitif, dan kemampuan membuat pengetahuan menjadi aset unggulan.
Tantangan di Era Pengetahuan
Adalah bagaimana menggunakan pengetahuan sebagai keuntungan kompetitip dan menjadikannya aset unggulan. Seolah gampang dikatakan, tapi nyatanya tidak mudah. Itu yang saya rasakan.
Kita saat ini bukan lagi mencari lebih banyak informasi, melainkan bagaimana mengolah informasi yang didapatkan menjadi pengetahuan.
Tantangan kita bukan lagi mencari apa yang membuat kita tahu, tetapi mencari apa yang bisa membuat kita melakukan sesuatu.
Pengetahuan memberi kita kemampuan untuk melakukan perubahan. Dengan menguasai pengetahuan, kita tidak akan takut pada perubahan dan malah kita sangat menantikan perubahan.
Menjadi Pekerja pengetahuan sebaik mungkin
Era ini seperti diberikan kepada Generasi Milenial. 20 tahun ke depan, generasi ini akan terus menguasai dunia kerja. Dengan catatan, kamu harus melakukannya sebaik mungkin.
Dalam sebuah buku yang terbit tahun 1993, Post-Capitalist Society, Peter Drucker mengindentifikasi bahwa ekonomi dunia sedang memasuki era baru yang berbasis pengetahuan.
Drucker menyatakan bahwa terjadi perubahan sistem masyarakat Barat. Sistem kapitalis yang merajai Era Industri sampai Era Teknologi Informasi digantikan oleh sistem post-kapitalis yang menjadikan pengetahuan sebagai kapital (modal) utama.
Pengetahuan adalah aset utama
Saya sudah menyebutkan di atas sebelumnya, tapi saya ingin kembali mengatakan ini untuk mengingatkan bahwa Era ini, pengetahuan adalah aset utama jika kita ingin mendapatkan hasil yang signifikan.
Setiap orang harus menggunakan pengetahuan sebagai sumber daya utamanya, apa pun profesinya yang dia tekuni. Pemburu atau petani yang hidup di Era Pengetahuan harus memiliki Paradigma yang berbeda dengan pemburu pada Era Pemburu atau petani pada era Pertanian.
Pahami ini, meski kamu dapat banyak informasi, kamu belum tentu disebut memiliki pengetahuan
Era sekarang memang sangat mudah mendapatkan informasi. Kamu tinggal cari dengan sekali klik atau scroll di media sosial.
Namun dengan informasi yang banyak kamu dapatkan belum tentu kamu disebut berpengetahuan. Contohnya sebagai berikut.
Kamu ingin memasak sesuatu yang memang belum pernah kamu lakukan. Kamu tinggal cari resep dan cara memasaknya di Internet. Kamu sudah mendapatkan informasinya.
Saat sudah mendapatkan dan kamu tidak mencobanya hingga masakan jadi, kamu belum disebut berpengatahuan. Sebatas tahu saja.
Ini berbeda dengan setelah kamu mempraktekkan informasi yang kamu dapat dan memberikan hasil berupa masakan. Soal enak nggak enak, belakangan. Nah ini, baru kamu bisa disebut berpengatahuan.
Informasi saja tidak menghasilkan apa-apa. Pengetahuanlah yang memberi kita kemampuan (skill) yang juga mencakup informasi.
Ingat bahwa Humberto Maturana pernah mengatakan bahwa knowledge is a validated platform to act - pengetahuan adalah landasan yang sudah divalidasi untuk melakukan tindakan.
Pengetahuan adalah PENGALAMAN, pengalaman melahirkan PENGETAHUAN. Informasi akan menjadi pengetahuan jika sudah dipraktikkan.
Saya berharap bisa mendapatkan pengalaman dengan banyaknya informasi melalui pekerjaan saya saat ini sebagai bloger. Karena seorang bloger bercerita tentang pengalaman dan sudut pandangnya yang sangat berbeda dengan kebanyakan secara umum.
Bagaimana dengan kamu, apakah masih sebatas pengguna dan penikmat informasi saja?
[Artikel 17#, kategori Tips] Saya sudah menghitung kira-kira berapa kuota yang dihabiskan untuk menonton siaran langsung sepakbola via streaming. Tentu Anda sekarang bisa mengukur biaya untuk menghabiskan kuota apabila tim kesayangan Anda akan bertanding hari ini.
Begini rasanya ketika mertua datang ke rumah, nggak enakan. Padahal, cuma menjenguk cucu kesayangan. Tapi rasa malas yang biasa dirasakan sebelum nikah, berubah rasa risih. Serba salah, pokoknya.
Istilah pacaran jarak jauh atau LDR sudah banyak kita dengar dan lazim. Saya pun pernah mengalaminya dan akhirnya kandas semua. Tapi kalau pasangan suami istri LDR?
[ Artikel 6#, kategori kopi ] Bulan Juli ini menjadi momen transisi yang cukup kontras di meja kerja saya. Bukan tentang perpindahan aplikasi manajemen tugas atau perubahan jadwal tidur dini hari, melainkan urusan krusial yang paling mendasar bagi seorang blogger: pasokan kafein harian. Semua bermula saat saya melipir ke rak minimarket tempo hari dan menemukan sebungkus besar Kopi Luwak sachet isi 14 yang sedang promo di angka 9 ribuan. Sebagai manusia yang sedang dalam mode menekan pengeluaran agar ramah di kantong, kalkulator di kepala saya langsung menyala. Sembilan ribu untuk 14 hari? Jelas sebuah tawaran hemat yang tidak boleh dilewatkan. Namun, kepindahan dari merek sebelumnya membawa sebuah "kejutan budaya" kecil bagi lidah dan kebiasaan ngopi saya. Sebelumnya, saya adalah penikmat Nescafe sachet. Karakter kopi tersebut sangat praktis—diseduh dengan air panas, larut sepenuhnya, dan bisa langsung diminum sampai tetes terakhir tanpa menyisakan apa-apa di dasar gelas. Ber...
Beberapa member di grup facebook Zenfone 2 sering banget berdiskusi tentang penggunaan smartphone merek Asus ini yang dikawinkan dengan jaringan 4G milik Smartphone. Penasaran juga, akhirnya saya mencobanya. Dan taraa....
Komentar
Posting Komentar