Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

50 ribu itu sangat berharga


[Artikel 29#, kategori catatan] Bagaimana rasanya kehilangan 50 ribu rupiah dalam beberapa jam? Kalau saya, benar - benar sedih dan jadi kepikiran. Tapi itulah perjuangan. Setidaknya saya ingin menghargai mereka yang masih mengingat saya.

Akhir pekan ini, Semarang cerah dan panas menggigit seperti biasa. Saya sudah bersiap - siap pergi menghadiri undangan yang datang malam harinya. Ada acara grand opening hotel baru gitu yang tertulis di surat elektronik yang saya terima.

Mendapatkan undangan seperti ini tidak gampang, apalagi buat bloger. Saya termasuk beruntung pokoknya, dan ketika dapat beginian, saya tahu bahwa orang ini tahu atau kenal dengan dotsemarang.

Saya selalu tidak suka acara yang ada di Semarang atas

Alasan utama saya tidak suka karena soal transportasi. Bukan perkara jauh, tapi biaya yang dikeluarkan untuk menggunakannya. Mau bawa kendaraan, tentu saya memilih roda empat yang dari segi keamanan berkendara, roda empat memberi jaminan. Apalagi saya tanpa Surat Izin Mengemudi (SIM).

Tapi saya sudah tidak suka membawa roda empat, selain harus mengeluarkan bensin yang minimal 50K, dan gak mungkin membeli 10K, roda empat di rumah merupakan mobil keluarga. Makanya saya menyukai bersepeda saja.

Bila terpaksa ada undangan, saya lebih menyukai naik gojek. Harganya kurang lebih sama bila rute yang diambil Semarang atas. (Semarang atas adalah sebutan untuk kawasan Tembalang, Gombel, Banyumanik dan lainnya).

Saya pernah diundang ke sebuah forum yang beberapa kali saya ikuti. Saya sebenarnya sudah menolak, tapi orang tersebut sangat berharap saya datang. Saya usahakan, meski akhirnya saya tidak datang. Dompet benar-benar kering.

Saya bukan pelit atau tidak beintegritas

Bukan-bukan. Saya bukan seperti harapan banyak orang dengan profesi sebagai bloger yang mendapatkan pundi-pundi rupiah dengan mudah.

Saya masih kesulitan mendapatkan rupiah hingga sekarang. Ini karena saya tidak main Adsen, sangat jarang mengikuti lomba blog, dan selalu kesulitan untuk mengisi kuota Internet tiap bulan. 

Saya tidak bisa memaksakan diri saat sebuah acara mengundang saya dan saya harus datang. Saya benar-benar menulis karna saya menyukainya.

....

Hari ini saya masih memaklumi orang-orang yang mengundang saya dan berharap saya mereview tempat mereka, atau acara mereka. Saya ucapkan terima kasih untuk mengingat saya.

Tapi lain kali, saya akan memilih dan memilah, mana yang mengundang saya. Kalau ada dana transportasi, saya akan usahakan datang. Namun bila tidak, saya pikirkan 2x dulu.

50 ribu, harga naik gojek bolak-balik itu seharga 1 paket internet saya sebulan untuk 1 perangkat. 50 ribu adalah harga minuman semangat saya, kopi, selama 1 bulan dan 50 ribu, menyenangkan bisa mengantonginya tiap bulan.

Menyedihkan, bukan?
Terima kasih simpatinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini