Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat. Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
[Aktivitas] Hadir di Grand Opening Hazotel Semarang
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
[Artikel 40#, kategori aktivitas] Satu lagi hotel di Semarang berkonsep Syariah setelah hotel Semesta yang saya tahu. Hari Sabtu kemarin, tanggal 15 April, saya turut hadir di Hazotel yang beralamat di jalan Durian Raya No.2, Banyumanik.
Sebenarnya saya enggan menghadiri acara yang berhubungan dengan Semarang atas. Karna ini undangan resmi, malam sabtunya baru dapat via email, saya akhirnya memastikan hadir.
Acara di undangan sekitar pukul 8 pagi, saya pikir harus datang lebih awal atau setidaknya tepat waktu. Namun seperti biasa, acara molor. Dan saya baru ngeh yang ngundang ternyata pernah kenal. Marketing yang bekerja di sebuah pusat oleh-oleh dulunya. Entah apa kabar Sekarang, apakah masih di sana atau tidak.
Ternyata hari ini juga acara dibarengin dengan acara semacam workshop dengan tema membuat video lewat Smartphone. Ah, saya belum tertarik dengan acara ini.
Meski harus merogoh kocek 50 ribu untuk ke sini, dan pulang hanya mendapatkan voucher makanan kalau makan di sana dengan syarat harus habis berapa ratus, setidaknya saya menghargai yang mengundang. Karna dalam daftar undangan untuk bloger cuma 1 diantara awak media yang diundang.
Pada akhirnya bloger perempuan yang datang karna acara workshop sudah membantu promosi hotel berbintang satu ini. Saya lihat media sosial mereka sangat update dengan suasana hotel. Bahkan saya saja malah belum update via media sosial, selain live tweet acara via Twitter Livedotsemarang.
Terima kasih atas undangannya.
Sukses buat hotel barunya.
...
Postingan ini bukan menulis review Hazotel, karena ini adalah postingan aktivitas saya saja sebagai pemilik blog dotsemarang. Untuk review hotel yang memiliki resto bernama Hazelnut ini nanti saya taruh di blog dotsemarang. Jadi ditunggu saja waktunya.
Sayangnya, acara seperti ini membuat saya sama seperti jurnalis pada umumnya meski saya bloger. Saya berharapnya bisa mencoba kamar, setidaknya menginap ketimbang diberi voucher makan. Apalagi makan di sana juga, dan saya tentu tidak akan makan di sana karena ada syarat tertentu untuk menggunakannya.
[Artikel 17#, kategori Tips] Saya sudah menghitung kira-kira berapa kuota yang dihabiskan untuk menonton siaran langsung sepakbola via streaming. Tentu Anda sekarang bisa mengukur biaya untuk menghabiskan kuota apabila tim kesayangan Anda akan bertanding hari ini.
Begini rasanya ketika mertua datang ke rumah, nggak enakan. Padahal, cuma menjenguk cucu kesayangan. Tapi rasa malas yang biasa dirasakan sebelum nikah, berubah rasa risih. Serba salah, pokoknya.
[ Artikel 32#, kategori keluarga ] Hujan mengguyur Kota Semarang seharian penuh hari ini, Rabu (22/4). Bagi sebagian orang, rintik air yang jatuh mungkin terasa menenangkan, namun bagi saya, ada trauma kecil yang menyelinap setiap kali langit mulai mendung. Benar saja, hujan kali ini kembali membawa pesan yang selama ini paling saya hindari: kabar duka. Suara dering telepon yang belakangan ini sering membuat saya waswas tiba-tiba memecah keheningan. Di layar ponsel, terpampang nama Bapak. Begitu tombol terima saya tekan, terdengar suara yang sangat familiar sedang bertanya tentang cara melakukan panggilan video. Tak lama, sambungan berganti menjadi video call . Melihat wajah Bapak dengan peci putihnya, perasaan saya mulai tidak enak. Jarang sekali beliau meminta panggilan video jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Benar saja, dengan nada suara yang berusaha tenang, Bapak mengabarkan bahwa adik bungsunya—paman saya—telah meninggal dunia. Kalimat Innalillahi meluncur begitu saja. Sa...
Istilah pacaran jarak jauh atau LDR sudah banyak kita dengar dan lazim. Saya pun pernah mengalaminya dan akhirnya kandas semua. Tapi kalau pasangan suami istri LDR?
[ Ini adalah artikel ke-10 kategori Cinta ] Saya menaruh postingan ini dari pengalaman saya sendiri, jadi tidak semua pria memiliki sifat sama seperti saya. Beberapa hal mengenai wanita yang dapat membuatnya sedih maupun tersenyum, terkadang pria menyukainya. Tapi kadang pula, pria dianggap baperan. Wajar saja sih.
Komentar
Posting Komentar