Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Belajar Tidak Cuek dari Bangkai Cicak


Menjadi cuek itu menjengkelkan rupanya, terutama untuk hal sangat sederhana. Apakah orang yang cuek itu tidak melihat apa yang terjadi disekitarnya? Apakah itu disengaja atau sebaliknya. Saya belajar hal ini dari sini.

Bangkai cicak mati yang sudah mengering berada dekat tas yang letaknya sangat berdekatan. Dan itu di kamar. Pemilik tas seperti tak melihat di sana kalau ada cicak mati. Saya membiarkannya dengan harapan, ia membuangnya karena berada di dekat tasnya.

Seminggu terlewati, tas dan cicak masih berada di tempat pertama yang saya lihat. Apakah ini nasib saya untuk segera membuangnya. Tidak-tidak, saya masih ingin mengontrol diri untuk melihat apakah pemilik tas melihatnya atau tidak.

Pergi ke luar kota

Tasnya sudah berpindah dan digunakan oleh pemiliknya yang akan pergi ke luar kota. Anehnya, bangkai cicak yang tergelatak seperti gambar tidak dibuang. Aneh rasanya jika itu disengaja agar saya membersihkannya.

Pemilik akhirnya pergi membawa tasnya dan benar-benar tidak peduli dengan bangkai cicak yang ada di sana. Terpaksa akhirnya saya juga yang membuangnya setelah hampir dua minggu dari pertama saya melihatnya.

Belajar tidak cuek

Saya memikirkan diri sendiri layaknya orang sedang bermeditasi. Apakah ini pelajarannya dari kejadian yang saya alami ini. Yang di depan kelopak mata tak terlihat dan di bawah kaki seolah tak terinjak.

Begini rasanya melihat orang yang cuek untuk sesuatu yang sederhana. Mau marah, kesal, bahkan menghardik lalu melemparkan bangkai cicak ke dalam tas si pemilik harusnya saya lakukan. Tapi ini hanya merugikan saya yang selama ini sebagai penonton tapi terus menunggu si pemilik peka sendiri.

Ya, bila kamu berpikir seharusnya saya saja yang membersihkan, maka kamu benar dari sudut pandangmu. Namun bukan itu pembelajaran yang saya ingin dapatkan.

Saya tahu, saya menemukan lagi sifat kekurangan manusia yang memang pada umumnya juga dimiliki. Saya ingin terus belajar dari apa yang saya temukan dalam keseharian. 

Seluruh emosi saya akhirnya tersampaikan dalam postingan ini. Apakah diam itu emas, mungkin saja? Sebagai manusia, saya coba untuk tidak lelah menahan diri bahwa kebaikan itu memang sulit dilakukan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini