📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun
[Artikel 35#, kategori sepeda] Rabu, 21 Oktober 2026 kemarin sepertinya jadi salah satu hari yang bakal masuk daftar "hari tersial" tahun ini. Semuanya berawal dari niat sederhana: ngabisin waktu sore dengan nonton film Kuasa Gelap di bioskop. Niatnya cari hiburan, eh, semesta malah nyiapin plot twist horor beneran pas perjalanan pulang.
Waktu lagi di jalan, tiba-tiba ada kejanggalan yang bikin jantungan. Stang sepeda lipat kesayanganku mendadak copot!
Usut punya usut, itu adalah bagian yang dulunya memang pernah di-las. Pikiran sempat berkecamuk. Namanya musibah, mana ada yang tahu. Tapi rasanya kali ini kok pas banget momennya: hari udah mulai mendung, langit keliatan kelam, ancaman mau hujan udah di depan mata, dan stang sepeda malah lepas di tengah jalan.
Beda cerita kalau ban bocor atau kempes. Sepeda masih bisa digeret sambil jalan kaki dengan sabar. Lah, kalau stang yang copot? Mau digeret gimana, setirnya udah merdeka jalannya sendiri-sendiri, nggak bisa dikendalikan!
Di tengah kepanikan kecil itu, otak dituntut mikir cepat. Pas lihat ada secarik tali plastik hitam (bekas tali rafia/kresek) tergeletak di jalan, mendadak muncullah "ide brilian" ala survivor darurat. Dengan seadanya, stang itu kuikat pakai tali kresek sekuat tenaga
Walaupun pas dicoba, tetap saja goyang-goyang lemes dan nggak bisa kokoh. Yang penting, kendaraan "semi-otonom" dadakan ini bisa membawaku bertahan sampai rumah sebelum rintik hujan benar-benar tumpah. Sungguh pengalaman rasa nano-nano.
Cerita belum selesai sampai di situ. Esok harinya, sepeda ini mutlak harus segera disembuhkan karena fungsinya sangat krusial buat transportasi harian—apalagi besoknya ada jadwal nge-gandeng bola malam.
Siang-siang jam setengah sebelas, aku langsung meluncur ke tempat tukang las langganan lama yang sudah dua tahun nggak dikunjungi. Dalam hati kecil, sempet mikir, "Ah, dulu kan udah pernah di-las di situ, harusnya bakal kuat selamanya."
Tapi, apes rupanya belum mau cuti. Sesampainya di sana, bengkelnya tutup! Wah, rasanya, astaga cobaan apalagi ini, batinku.
Mau nggak mau, buka Google Maps jadi opsi terakhir. Ketemu satu titik tempat las yang jaraknya hampir 3 kilometer, dan posisinya harus masuk ke dalam perkampungan serta menyeberang jalan raya. Kebayang kan, gimana deg-degannya naik sepeda dengan kondisi stang yang masih goyang-goyang, harus nyeberang jalanan Semarang yang lumayan ramai? Uji nyali level lokal banget.
Perjuangan 3 kilometer itu akhirnya berbuah manis saat aku tiba di bengkel las tujuan. Di sini, metodenya pakai las listrik—meski alatnya beda, tujuannya tetap sama: menyatukan asa yang sempat patah.
Nah, di sinilah bagian paling hangat dari hari yang tadinya ngenes. Bapak tukang lasnya baik banget. Sambil nungguin sepeda dikerjakan, kami ngobrol ngalor-ngidul. Aku sempat cerita awal mula kenapa bisa sampai nyasar ke situ dengan kondisi sepeda yang mengenaskan. Dari obrolan itu, bapaknya sempat berbagi cerita masa mudanya dan menyelipkan satu petuah hidup yang ngena banget:
"Uang itu memang penting, tapi jangan terlalu menyembah uang."
Sebuah kalimat sederhana yang jujur, dalam, dan bikin kepala adem di tengah hari yang terik. Nggak cuma dapet pencerahan gratis, waktu urusan bayar pun, beliau memberikan kemudahan alias biayanya nggak bikin kantong jebol. Rasanya hormat banget sama beliau. Kapan-kapan, sepertinya seru juga buat nulis cerita khusus tentang obrolan hangat di bengkel itu.
Sekarang, sepedanya sudah normal lagi. Kata bapaknya tadi, bagian yang patah itu bahkan sampai dilas dua lapis supaya benar-benar kuat.
Melihat hasilnya yang nampak kokoh
Yah, namanya juga jalan hidup, kalau nggak sedikit ngenes, mungkin kurang seru buat dicatet di blog!
Artikel terkait:
Komentar
Posting Komentar