Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tempat Duduk Favorit Tiap Nonton Film Indonesia di Bioskop


[Artikel 17#, kategori Kofindo] Kapan kamu terakhir pergi ke bioskop? Hampir 2-3 tahun kebelakang, saya 90% selalu ke bioskop tiap hari kamis. Dan itu artinya, saya punya sesuatu yang bisa saya ceritakan di sini hari ini. Kamu sudah tahu?

Saya benar-benar menyukai pergi ke bioskop itu lebih karena merasa prihatin dulunya. Tidak banyak orang pergi ke bioskop, bahkan untuk bertemu artisnya di sini pun sulit meski memiliki jadwal roadshow beberapa kota.

Namun sekarang saya sangat senang, banyak orang pergi ke bioskop. Terutama generasi Z yang masih bersekolah. Dan mereka bisa semangat nonton juga karena para pelaku film memberi karya terbaik mereka setiap membuat filmnya.

Tempat duduk kode E

Ini adalah deretan kursi yang saya sukai untuk menonton film Indonesia. Alasannya, sudut pandang mata ke layar sangat bebas. Ini berbeda dengan tempat duduk lain yang kursi depannya menghalangi pandangan dengan kepala penonton.

Bila ramai, terkadang saya mau nggak mau harus mencari tempat duduk lain. Namun bila sepi, sayalah rajanya di sana. Banyak kepuasan saat sepi meski saya tak berharap sepi.

Tempat duduk ini sudah menemani saya bertahun-tahun, dari suasana penonton yang kosong sama sekali hingga sangat ramai.

Pernah nonton film sendiri dan genre filmnya horor? Hmm.. saya yakin itu butuh perjuangan agar tidak takut. Gelap, audio yang berdetakan silih berganti dan memikirkan hal lain yang duduk di sebelah.  

...

Saya berharap terus pergi ke bioskop menyaksikan karya-karya yang dibuat sineas Indonesia. Namun sepertinya, ketakutakan untuk tidak menonton bakalan terjadi. Banyak hal yang harus dipertimbangkan mengingat kondisi keuangan yang tidak mendukung.

Meski begitu, saya sudah lega dan tidak perlu bertanggung jawab lagi tentang bagaimana orang-orang harus pergi ke bioskop. Media sosial benar-benar sangat membantu.

Artikel terkait Kofindo :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger