Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kerja, kerja dan kerja


[Artikel 35#, kategori Motivasi] Peruntungan hidup saya tahun ini yang bakalan menginjak kepala 31 sepertinya belum berubah. Pikiran boleh tenang setelah menulis, jiwa boleh sehat karena telah berolahraga, tapi tuntutan tentang bagaimana menghasilkan uang itu ternyata sangat diperlukan. Mengapa?

Ini bukan saya terlalu gila uang atau harta dan bla..bla. Pekerjaan ngeblog yang saya yakini ini belum menghasilkan sesuatu yang besar. Apalagi lingkungan keluarga di sana, sangat membutuhkan uluran tangan saya.

Ingin sehat, beli vitamin pake uang. Ingin membahagiakan orang lain dengan traktir kopi, itu perlu uang. Ingin buat nyaman saudara, koneksi Internet juga butuh uang. Ingin kerja rajin dengan nulis blog, tetap saja butuh uang buat beli pulsa perbulan. Ah.. gak nyantai banget kalau begini.

Jadi saya pikir tahun ini saya ingin lebih banyak kerja-kerja saja. Kerjanya apa? Ya nulis blog. Kalau kerja lain, saya sepertinya belum sepakat sama bakat. Karena bakat yang saya yakini sudah terlalu jauh dan saya tidak ingin menyerah begitu saja sekarang.

Sepertinya saya mulai banyak pikiran dan berpikir merasa kehilangan itu lebih baik saat ini ketimbang sakit dibelakang.

Yuk, mari kita kerja dan kerja.
Sesekali nonton drama Korea
*Alah...
**Haa..haha..


Motivasi lainnya :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger