Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

[Futsal] Kali Ini Menjadi Kiper


[Artikel 6#, kategori futsal] Salah satu dilema bermain futsal bagi sebagian orang yang bukan sebagai tim adalah ketiadaan penjaga gawang. Meski siapa pun dapat mengambil peran tersebut, saya berharap ada banyak orang ingin menjadi kiper ketimbang mengisi slot posisi pemain lainnya. Jumat pertama di bulan Mei, kali ini saya berperan sebagai kiper. Apakah mudah?

Tangan saya cedera, meski tidak parah. Untuk ukuran bukan penjaga gawang, memang ini bisa terjadi. Apalagi tidak menggunakan sarung tangan.

Dilema tidak ada pemain yang berposisi sebagai kiper

Apakah kamu mengalami juga, semisal kamu memang suka bermain futsal juga. Posisi penting ini tidak banyak yang berminat sepertinya.

Mau tidak mau, salah satu pemain harus berkorban menjadi penjaga gawang. Tidak hebat, setidaknya dapat menahan bola agar tidak lebih banyak kebobolan oleh tim lawan.

Saya sendiri secara teknik, ada sedikit kemampuan. Pengalaman dari jaman anak-anak sudah cukup memberi gambaran bagaimana saya harus bereaksi. Hasilnya seperti di atas, tangan saya mengalami cedera saat menahan tendangan kencang dari dekat.

Saya menghindarinya tapi bukan tidak mau karena tidak bisa

Hanya saja, saya takut merasa nyaman menjadi kiper. Ketika rasa nyaman itu tiba, seseorang bisa sangat lama bertahan di sana.

Akhirnya saya tidak bisa menyembunyikan keinginan tersebut. Hampir seluruh waktu yang berdurasi 2 jam, dengan beberapa pergantian tim, saya berada di bawah mistar gawang.

Ini menyenangkan, tapi saya harap pekan depan saya tidak memulai pertandingan menjadi seorang penjaga gawang. Sepertinya Jumat depan sudah masuk puasa. Apakah rehat, seperti jumat sebelumnya saya tidak bermain karena sedang berada di Samarinda.

*Sepertinya puasa masih belum

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini