Futsal, Wanita dan Parma


[Artikel #8, kategori futsal] Minggu kedua bulan ramadan, aktivitas futsal masih seru untuk diikuti. Semenjak dibuat grup, informasi bisa didapat dengan mudah. Takutnya seperti kejadian beberapa minggu lalu, saat saya datang sendiri dan gak tahu kalau hari itu tidak main. Futsal, wanita dan Parma? 

Keberhasilan Parma kembali ke Seri A jadi obrolan menarik beberapa rekan futsal yang memang salah satu dari kami, ada penggemar sejati dari klub yang berdiri semenjak tahun 1913.

Apakah musim depan liga teratas negeri juara dunia tiga kali ini lebih seru? Apalagi Napoli sukses menggaet Ancelotti sebagai manager (pelatih) yang diharapkan memutus rantai keperkasaan Juventus yang tak terbendung. Entahlah, mari kita tunggu saja.

Area lapangan

Pertandingan pertama selalu menjadi pilihan. Entah kenapa pemanasan yang kali ini rasanya sangat kurang. Permainan 5 menit awal terasa berat. Saya sempat berpikir ada yang salah dengan tubuh ini .

Sebelum pertandingan dimulai, mundur sedikit, lapangan sebelah yang minggu lalu kosong (efek puasa) kini terisi oleh tim yang mengambil lapangan dengan latihan. Jadi ingat, masa-masa sekolah dan kuliah, kala berlatih. Rindu - rindu masa itu 

Semua penuh semangat malam ini (25/5). Rekan-rekan futsal juga terus berdatangan. Meski tak banyak seperti minggu pertama puasa, setidaknya pergantian tim bisa dilakukan lebih dari 2 tim. Kali ini ada 5 tim yang mau tidak mau harus memaksimalkan waktu selama 2 jam.


Kami pikir itu bercanda

Saat jeda, bergantian dengan tim lain yang belum bermain, melihat beberapa wanita datang bersama pasangannya yang ingin bermain futsal tentu memberi warna tersendiri di area futsal. Meski mereka bukan di tempat kami.

Saya kembali teringat masa lalu ketika pernah melakukannya juga. Ya, menyenangkan saat itu. Bukan sekedar penyemangat saat wanita yang kita bawa mencuri perhatian, tapi juga sebuah kebanggaan bagi pasangannya.

Kembali ke lapangan dengan tubuh saya yang penuh keringat. Suasana di dalam lapangan juga tak kalah menarik. Rekan-rekan yang bermain menunjukkan semangat luar biasa bermain yang tentu tetap diselingi tawa, mengingat tali diantara mereka mulai nyambung.

Woi kamu di sana, ya kamu...

Sebuah teriakan memekik telinga datang dari belakang tempat saya duduk. Entah siapa, dan dari mana ia datamg awalnya, lalu siapa yang diteriaki tanpa memanggil nama orang yang dituju.

Suasana yang begitu menyenangkan di pinggir lapangan kami pikir itu bercanda. Namun yang terjadi tidak demikian. Insiden kecil yang tidak menyenangkan namun dapat diselesaikan secara baik-baik membuat suasana tetap terkendali.

Kami masih bermain, kami masih teriak dan kami masih menyemangati rekan-rekan yang bermain. Semua masalah yang terjadi tadi kami biarkan, toh, dapat diselesaikan meski hanya beberapa orang yang meredamnya. 

Kami tak perlu ambil pusing. Yang pasti, mereka sedang berbicara tentang wanita. Saat pria benar-benar mencintai wanitanya dan telah berkorban, mereka tidak terima dengan perlakuan. Tentu, itu tidak terjadi bagi kami, pria. Wanita tentu juga merasakan hal sama.

Kiper kami yang luar biasa

Pujian sangat layak kami berikan kepada kiper yang saya pikir ia semakin percaya diri semenjak mulai terus bermain bersama kami.

Dari bentuk fisik sebenarnya tidak ada yang menyangka bahwa pria yang mungkin sudah di atas 30 tersebut memiliki bakat seorang kiper.

Tapi tetap saja, keberhasilannya menggagalkan banyak tendangan para pemain, ia adalah manusia biasa. Menjelang menit-menit waktu habis, saya melihatnya ia sudah kelelahan dengan banyaknya gol yang bersarang di gawangnya. Padahal ia beberapa kali bermain, berhasil menahan pemain lawan tidak mencetak gol.

...

Minggu ini, permainan saya tidak begitu mengagumkan. Namun tetap saja, saya melakukan hal-hal tak biasa yang biasa dilakukan pemain bertipe fantasista. Memang kurang sempurna, tapi saya terus berusaha.

Melepaskan penat di lapangan memang melegakan. Apalagi hubungan yang terjalin semakin nyambung. Awalnya saya cuma diajak oleh rekan yang kenal saya. Saat bermain, saya tak mengenal siapa pun di sana. 

Semoga saya terus bermain bersama mereka. Orang-orang baik yang menyukai olahraga futsal.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Flower, Drama Korea Tentang Kehebatan Jang Hyuk yang Selalu Dapat Menyelesaikan Masalah