Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pertama Kali Merasakan Gempa

[Artikel 9#, kategori Jogja] Sudah 16 tahun saya tinggal di Kota Semarang, namun merasakan gempa untuk pertama kalinya baru saja akhir bulan Juni kemarin. Itu pun di Jogja, saya bukan bangga. Hanya saja sangat waspada saat itu.

Jumat sore, tanggal 30 Juni, saya dan seluruh penghuni rumah kembali ke Jogja usai merayakan Iduladha di Kota Semarang. Ya, mereka kembali pulang dan penerbangannya dilakukan lewat bandara Jogja.

Kali ini istri si bungsu juga ikut pulang bersama anaknya. Sedangkan si bungsu yang jarang ikut nemanin ke Jogja, memutuskan ikut mengantar. 

Gempa

Saya tidak menyangka terjebak dalam kemacetan panjang setelah tiba di Jogja yang sekalian mencari makan malam. Kami dari Semarang berangkat sore hari, makanya ini baru tiba malamnya.

Saat menunggu, saya sempat dibuat terpengarah dengan keadaan kendaraan di depan saya yang bergoyang. Dalam hati berbicara 'apaan sih kok goyang-goyang', di jalan pula yang banyak orang-orang. *mungkin kamu mengerti maksud saya. 😅

Dalam hitungan menit, orang-orang di pinggir jalan pada berdiri dan terlihat menjauh dari aktivitas sebelumnya yang berada di tempat makan. Waduh, ada apa ini?

Saya yang awalnya nggak ngeh, baru akhirnya merasakan jika setir yang saya pegang terasa bergoyang juga. Sontak saja saya kaget dan baru mengetahui jika ada gempa yang melanda.

Deg-degan dong. Apa macet ini alasannya karena ada gempa? Saya sangat khawatir dengan apa yang terjadi pada saya dan orang rumah nantinya. Nggak lucu kan, kami masuk berita di TV.

Pawai Obor

Karena pengalaman pertama kali merasakan gempa secara langsung, pikiran saya sedikit negatif. Apalagi macetnya juga jadi lebih parah, tidak ada yang bisa bergerak.

Hanya karena ingin mencari makan di tempat yang berbeda, keadaan yang seharusnya baik-baik saja membuat kami semua jadi khawatir.

Syukurlah, kendaraan mulai bergerak perlahan-lahan. Dan saya terkaget yang awalnya sangat khawatir karena ada gempa, tidak menyangka macet parah ini ternyata disebabkan iring-iringan pawai obor.

Tepok jidat! Panik nggak panik, masa nggak. Ketawa bangsat!!! Haha... Oh ya, gempa yang saya rasakan ternyata terjadi di Bantul dan merambat hingga ke Jogja. Saya juga dapat kabar jika Kota Semarang, ada yang merasakan juga. 

....

Saya belum menikah dan ingin sekali memiliki anak untuk meneruskan diri saya. Masa harus menderita karena gempa, apalagi di Jogja. Kekhawatiran yang berlebihan membuat pengalaman saya tidak menyenangkan. Pertama kali, pula.

Terima kasih, Tuhan - Allah SWT yang masih memberi keselamatan kepada kami semua. Khususnya diri saya yang mulai sering bolak-balik ke Jogja tahun ini. Sehat selalu buat diri saya dan panjang umur menyertai.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini