Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dulu ke Jogja Berwisata, Sekarang Seperti Rutinitas Saja

[Artikel 8#, kategori Jogja] Saya sudah menginjak pedal gas semaksimal mungkin, namun tetap saja terlambat sampai di bandara Jogja baru. Minggu ketiga bulan Juni, saya kembali ke kota pelajar. Ini kali ke-4 dalam setahun ini mengunjungi Jogja.

Orang rumah datang lagi dan berencana lebaran iduladha di Kota Semarang. Mau tidak mau, saya harus menjemput mereka di Joga karena menggunakan penerbangan lewat sana. Bukan Kota Semarang.

Rutinitas

Saya memikirkannya dalam perjalanan yang kali ini sendirian. Pergi ke Jogja seakan rutinitas saja dan dipastikan akhir bulan Juni ini akan kembali mengantar mereka yang lagi-lagi pulang lewat bandara Jogja.

Dulu, mengunjungi kota gudeg ini karena ingin berwisata atau ada acara penting yang berhubungan dengan dunia blogging. Saya tidak menyangka tahun 2023, ini malah jadi ruitinitas saja.

Terlambat

Saya sudah dipesanin dari awal untuk berangkat lebih awal dari Kota Semarang menuju bandara oleh pemilik rumah.

Namun apa boleh dikata. Sang menantu yang juga memiliki kuasa, tidak ada yang bisa saya lakukan saat kendaraan yang seharusnya segera saya pakai masih digunakan untuk menjemput putri tercintanya pulang Sekolah.

Bila waktu normalnya, 3 jam lebih bisa tiba ke bandara Jogja dari Kota Semarang. Namun kenyataannya tidak demikian. Ada beberapa faktor yang membuat perjalanan terhambat, seperti penutupan jalan dan kemacetan yang tidak diprediksi.

Saya jadi tidak enak sendiri karena pemilik rumah sudah tiba di bandara sedangkan saya masih terjebak di jalan. Saya tidak bisa menyembunyikan alasan apapun dari beliau karena beliau pasti tahu alasannya. 

Syukurlah, pemilik rumah makan siang dulu di bandara. Sehingga rasa bersalah saya karena terlambat tidak begitu kentara.

...

Kali ini cukup lama berada di Jogja. Hari Sabtunya tanggal 24 Juni, kami akhirnya kembali ke Kota Semarang. Bolak-balik Jogja ibarat mata uang yang memiliki 2 sisi. Satu sisi menyenangkan, satu sisi mengorbankan beberapa kepentingan.

Waktu futsal yang terganggu dan undangan liputan yang harus batal meski sudah dijadwalkan jauh-jauh hari. Keluarga lebih penting?

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini