Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Masalah Terbesar Orang Berpacaran Adalah Meributkan Hal-hal Kecil


[Artikel 24#, kategori Cinta] Saya ingin melihat dengan kedua mata saya bagaimana pasangan saya selingkuh, atau menemukan hubungan mesra dengan pria lain. Baik lewat chat maupun jejak digital lainnya. Tapi itu tidak mungkin, pasangan menyakinkan untuk selalu percaya kepadanya.

Keyakinan tersebut membuat hubungan dapat berjalan dengan baik. Tidak ada sikap ragu kepadanya, maupun hal-hal lain yang merugikan hubungan. Fix! Pria percaya dengan sikap wanitanya.

Tapi nyatanya, perjalanan waktu memberi pelajaran berharga bahwa hubungan saat menuju dewasa diberikan hambatan. Bukan soal apa yang dipikirkan pada paragraf pertama. Melainkan hal-hal kecil. Kadang nggak masuk akal, kadang pula di luar nalar.

Beberapa jam berbicara kasih sayang dengan emoticon love atau cinta-cintaan atau beberapa waktu penuh sikap mesra, tiba-tiba mendadak heboh dan saling diam-diaman.

Entah siapa yang memulai atau siapa yang salah, sikap dewasa di sinilah dipertanggung jawabkan. Mengikuti ego dengan kemarahan besar atau melupakan, karena itu tidak penting.

Berkali-kali terjadi hal serupa, berkali-kali minta maaf dan berkata tidak mengulangi. Dewasa sebuah hubungan memang tidak mudah, tapi kejadian itu kembali lagi.

Saya tidak tahu apakah hubungan ini tidak sehat atau berakhir menjadi penurut buat sebagian pria agar pasangan tidak marah. 

Yang saya rasakan adalah mengapa ini terjadi dan hal remeh itu kembali menjadi besar. Wanita memang sulit dimengerti, tapi cobalah melihat hubungan yang sudah dijalani.

Apakah semua waktu yang diberikan hanya berakhir oleh satu hal kecil karna ketidaksengajaan atau memang disengaja?

...

Membuat hubungan menjadi dewasa tidak mudah. Tapi melihat dari jauh, pertengkaran selama pacaran hanyalah bumbu untuk menyatukan kepingan puzzle-puzzle agar menjadi satu gambar besar.

Gambar besar itu adalah hubungan serius yang terikat. Pacaran putus, bisa disambung. Perkawinan putus, apakah yakin dapat dirajut ulang?

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini