Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Trauma Ikutan Arung Jeram


Saya kekeh menolak ajakan dalam satu rangkaian acara yang saya ikuti bulan November 2018. Padahal itu seru dan mengasyikkan. Tapi saya benar-benar trauma. Tidak pokoknya. Maafkan saya yang tidak asyik orangnya.

Alasan terbesar saya adalah tidak bisa berenang. Dan lucunya, saya pernah ikutan sekali saat program Visit Jawa Tengah 2013, dimana saya diyakinkan bahwa tidak masalah waktu itu.

Oke, saya ikutan dan seru waktu itu dapat menjadi bagian program tersebut. Saya yang baru pertama kali mengikuti, minim pengalaman, mendadak di akhir lintasan arung jeram atau rafting, perahu yang dinaiki mendadak dibalik.

Saya lupa atau tidak ingat, bahwa ada hal seperti itu yang dilakukan. Saya panik. Mencari pijakan dan semenjak itu, saya berharap tidak akan mengikuti olahraga air ini.

Naik banana boat

Kejadian kembali terulang dan lagi-lagi saya diyakini bahwa naik seperti banana boat aman. Mungkin saya saja yang bodoh. Dan kesenangan di atas banan berubah drastis.

Bila rafting, perahu dibalik, maka banana diakhir malah dihempaskan (karena ditarik). Sontak saja semua berjatuhan. Dan lagi-lagi saya pemula dan mendadak panik di dalam air hanya untuk mencari pijakan.

Meski pelampung terikat sangat keras pada tubuh, namanya panik tidak bisa berpikir jernih. Maunya cari pijakan, yang tentu saja tidak dapat diraih.

Jadinya trauma

Dan saya merasakan trauma itu sekarang setiap diajak ikutan. Apapun alasannya, sampai kesel mendengarkan bullyan orang-orang yang membully peserta lain, saya ingin sekali nonjok tuh orang. Tapi itu cuma harapan, aslinya ya gak mau. Teman sendiri.

...

Mungkin lain ceritanya jika saya dapat informasi di awal dan mendapatkan tips agar tidak panik saat sedang naik perahu. 

Akhirnya, saya bergabung dengan beberapa orang yang tidak ikut arung jeram. Sambil menunggu mereka selesai. Meski sangat lama, saya setidaknya merasa nyaman tanpa ikutan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini