Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Notebook Lelet


Beberapa tahun lalu, memiliki sebuah laptop atau notebook adalah keharusan mengingat pekerjaan yang dihabiskan di sana. Beban kerja mungkin saat itu masih ringan. Hanya menulis dengan membuka situs blogger. Seiring waktu, Internet semakin kencang, notebook kok jadi lelet.

Tidak heran, brand seperti Asus terus meluncurkan produk anyarnya dalam rangka upgrade diri. Baik untuk calon konsumennya hingga konsumen setianya.

Saya sendiri yang berada diantara tengahnya, malah sudah sering memegang saat acara launching. Sudah membaca spesifikasi dan tertegun melihat harga yang disodorin lewat kiriman rilis ke email dotsemarang.

Anehnya, saya belum memiliki laptop atau notebook dengan merek Asus yang selama ini sangat dekat dengan saya. Pertimbangannya mungkin karen harganya yang nggak masuk akal untuk saya.

Beban kerja 

Kembali ke ruangan saya di mana saya sedang bekerja dengan perangkat jinjing saya. Pekerjaannya tak jauh beda sebenarnya dari beberapa tahun lalu. Faktor usia notebook sepertinya sangat berpengaruh.

Saat saya menggunakannya itu pun sudah barang second dan berspesifikasi pentium tiga dengan prosesor kurang dari 2 GB.

Penderitaan saya semakin tidak berperasaan saat koneksi yang digunakan, internet maksudnya, terbilang kencang. Dan hari ini saya mengeluh kesekian kalinya karena saat sebagian orang mengeluh tentang koneksi, saya malah perangkat.

Satu halaman website yang saya buka masih aman, dua halaman juga aman, dan tiga? Hey, lelet sekali kamu. Bego, laptop diajak bicara.

Setiap hari, beban kerja rasanya semakin berat. Mulai dari mencari referensi yang mengharuskan membuka  lebih dari tiga situs sekaligus hingga melihat video (sudah tidak mungkin).

Belum lagi membuka file PDF dengan jumlah halaman tidak sedikit. Mengakses google foto yang tidak santai dan mengecek email yang bisa disambi dengan minum kopi. Sudah masuk ke halaman, nunggu bentar biar yang muter-muter berhenti (loading page).

...

Saya seperti menjadi orang modern tapi tinggal di dalam goa. Menunggu, menunggu dan menunggu. Orang lain di luar sana sudah menikmati, saya di dalam sedang menghayati. 

Saya berharap segera mendapatkan perangkat baru!
Saya cuma berkata, tidak meminta. Bila ada, saya pun tidak menolaknya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet

📌 Sekali Seumur Hidup: Menjaga Asa Menikah di Usia 40 Tahun